//
you're reading...
Uncategorized

HIJRAH TRANSFORMATIF, SOLUSI MENUJU KEBANGKITAN PERADABAN KITA (Refleksi 1 Muharram GP Ansor Kota Bima)

Hijrah secara harfiah merupakan bahasa Arab, yang berasal dari akar kata Hijr, yang artinya pindah. Kata ini digunakan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ketika mengambil langkah eksodus dari Mekkah ke Yastrib. Kepindahan Nabi dan pengikutnya itu berlangsung massif di saat kelompok-kelompok kepentingan dari kaum Qurais terus mengecam dan menekan gerakan dakwah terbuka yang digalang oleh Rasulullah. Kejenuhan yang memuncak, dan sempitnya ruang gerak, mendorong Nabi untuk memilih mencari tempat baru yang lebih aman dan nyaman bagi dirinya dan pengikutnya. Tempat yang dituju sesungguhnya bukan tempat yang baru, melainkan Yastrib yang merupakan kampung asal leluhurnya. Saat berusia delapan tahun, Muhammad pernah diajak oleh mendiang Ibunya untuk diperkenalkan pada keluarga sampingnya di sana. Begitu pula pada saat melakukan lawatan spiritual Isra’Mi’raj, Jibril alaihissalam sempat memperlihatkan daerah Yastrib sebagai basis baru bagi pembangunan syiarnya.

Pemilihan Yastrib dalam agenda kepindahan itu bukan tanpa alasan, melainkan jauh hari sebelumnya Rasulullah sudah mengutus banyak sahabat untuk melakukan upaya-upaya dakwah persuasif di sana. Popularitas Muhammad di Yastrib terus melejit, apalagi para pimpinan kabilah setempat benar-benar penasaran dengan kesohoran akhlak yang dibicarakan masyarakat. Kehebatan Rasulullah bukan sekedar menjadi kebanggaan sekelompok kecil orang Islam yang sudah terbangunn di sana, tetapi juga memikat hati pemimpin-pemimpin kabilah Yahudi seperti Khazraj dan Aus. Sosok Nabi sudah dirindukan jauh-jauh hari, bahkan oleh kaum Nasrani yang ingin melihat langsung kehadiran Al Amin.

Yastrib di kala itu adalah sebuah Kota kecil yang berada 600 km dari selatan Mekkah, namun penduduknya terkenal maju dan moderat. Ketika para delegasi muhajirin tiba lebih awal di sana, dan memberitahukan ihwal kedatangan Rasulullah, maka sontak saja seisi Kota Yastrib menjadi riuh dan gegap gempita menjadikan itu sebagai topik utama. Para pemuda Yastrib berkumpul, karena mereka mengidolakan sosok itu sebagai icon muda revolusioner di jazirah Arab. Bahkan banyak di antara konglomerat Yastrib yang bersedia agar rumahnya digunakan sebagai pusat aktifitas Rasulullah.

Di Mekkah, Rasulullah telah ditetapkan sebagai Target Operasi oleh beberapa sindikat Abu Jahal untuk dibunuh. Sepertinya ada kekhawatiran besar juga ketika pengaruh Muhammad menguat justru mengancam posisi penguasaan aset dan properti mereka. Apalagi Rasulullah adalah seorang pemimpin baru yang kental dengan jiwa enterpreneur karena di masa mudanya pernah melanglang buana menjadi manager usaha Abi Thalib dan isterinya Khadijah. Pengaruh inilah yang kemudian membuat para bangsawan dan bisnisman Mekkah untuk berkumpul, lalu merencanakan pembunuhan kepada Rasulullah. Hari-hari persembunyian pun dilalui oleh Rasulullah, yang dalam riwayat diceritakan bahwa ketika Jibril datang menawarkan bantuan pengamanan dan akan memusnahkan musuh-musuhnya, Rasulullah justru menjawab dengan ringan, “Mereka begitu karena tidak tahu, aku masih berharap anak-anak mereka akan mengikuti jalanku”.

Walau dalam situasi nyawa terancam dan terkepung oleh opini yang menyudutkan dirinya, namun Rasulullah selalu saja tampil tenang dan lembut, jiwanya sebagai pemaaf tidak pernah menampakkan wajah amarah pada berita-berita yang sampai ke pendengarannya. Itulah memang karakter mulia yang tak ada sanding dan bandingnya dalam sejarah peradaban manusia di bumi ini. Pantaslah di saat banyak orang merasa aneh dengan wataknya yang tidak lazim seperti watak masyarakat Arab kebanyakan, beliau selalu menyatakan, bahwa “Akhlakku adalah akhlaq Al Qur’an”. Rasulullah meski tidak pernah berjalan-jalan mengelilingi dunia secara fisik, namun beliau selalu memperlihatkan sikap egaliternya bahwa tidak ada keutamaan bangsa Arab di atas bangsa Ajam (asing di luar Arab).

Hijrah sebenarnya bukan kalim pertama dijadikan alternatif tindakan oleh Rasulullah di saat menghadapi tekanan keras dari lawan-lawan ideologinya. Pada tahun-tahun pertama Islam disyiarkan secara sembunyi-sembunyi, beberapa delegasi pernah diutus secara kontinental ke Habsyah (Ethiopia), termasuk di dalamnya sahabat Utsman Bin Affan. Hijrah dalam perspektif Rasulullah menjadi langkah terobosan untuk menemukan solusi baru dalam menata gerak dakwah, sekaligus memperkenalkan doktrin Islam kepada penduduk-penduduk lain. Dengan cara inilah, penyebaran Islam menjadi lebih dinamis dan fleksibel, serta menuntut mobilitas yang tinggi dari minoritas pengikutnya. Konstalasi inilah yang membuat orang-orang asing dari Syam, Yaman, Persia dan sebahagian budak Afrika menjadi welcome dengan ajaran baru dari Muhammad.

Istilah Hijrah mulai diperkenalkan kembali oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khattab, sebagai opsi mutlak dalam hal penanggalan pemerintahannya. Umar ingin identitas ini menjadi semakin kuat dengan menerapkan kalender Hijriyyah (Arab) bagi seluruh wilayah Islam di masa itu. Setelah disepakati, maka tonggak baru kebangkitan Islam itu ditetapkan terhitung mulai tanggal 1 Muharram bertepatan dengan kehadiran Rasulullah di Yastrib.

Hijrah Kalbu

Hijrah Kalbu; Hijrah mungkin dapat diartikan sebagai reorientasi. Jika nilai-nilai historis, filosofis dan sosiologis dari hijrah Rasulullah ditransformasikan, maka sejatinya dorongan itu berangkat dari kesadaran yang kuat dari akar kalbu Rasulullah. Dorongan ini tentunya bersifat absolut secara teologis karena Allah sendiri yang meneguhkan jalan itu dalam hatinya. Kesucian jiwa dengan penyadaran diri setiap waktu akan membuka pintu nubuwwah, terciptalah solusi-solusi genius walau dalam tekanan sekalipun. Dorongan hijrah adalah akumulasi kekuatan positif-konstruktif yang ada dalam kebeningan hati hamba Allah, dan itu hanya bisa didapat melalui pengingatan, pembiasaan dan peresapan berulang-ulang, seperti Penegasan Allah dalam… “Alaa bidzikrillaahi tathma’inul quluub” (Ketahuilah bahwa mengingat Allah akan mendamaikan hati).

Dzikir merupakan ritual tertinggi dalam ranah esoterik. Dzikir adalah amal rahasia yang sulit terdeteksi oleh sesama, karena kesadaran itu hanyalah interaksi batin antara Dzat Pemilik dengan yang dimiliki. Kalaupun hari ini terdapat kebiasaan dzikir bersama dalam bentuk majelis, itu merupakan salah satu model akulturasi semata yang dijalankan sebagai pola penyebaran syiar dan identitas luhur kaum muslimin. Dzikir bagi kita tidak lagi dimaknai sebagai ritual-dogmatis an sich, melainkan perannya sudah terintegrasi sebagai trend kebudayaan. Tetapi apakah formalisasi dzikir seperti itu telah menjadi sebuah solusi di tengah krisis kepercayaan yang melanda daerah kita saat ini (?). Jawabannya pastilah berbeda-beda.

Demi mengembalikan kejayaan daerah ini, maka Dzikir dalam terminologi nash-nash Al Qur’an maupun Sunnah, perlu ditransformasikan mengikuti trend kebudayaan yang berkembang di Bima saat ini. Perlu kita pertegas, bahwa Dzikir bukanlah ritual yang dikhususkan bagi kaum tua atau orang-orang yang sudah berkeluarga saja. Karena Dzikir adalah lelaku spiritual seluruh makhluk Allah tanpa memandang usia dan latar belakang profesi. Dzikir bukan hanya identik dengan juru ceramah dan guru agama, tetapi dzikir adalah mandat ilahiah bagi siapapun yang ingin menenangkan jiwanya, karena esensi dzikir ialah ‘tathmainul qulub’, mendamaikan hati.

Kedamaian hati adalah tujuan universal dari seluruh penghuni bumi. Maka dzikir seyogyanya diberlakukan sebagai ritual personal bagi seluruh umat untuk meraih perdamaian dan ketentraman. Tentu saja, sampai hari ini dzikir tetaplah berlaku sebagai ‘pelezat ibadah’ bagi ummat pengikut Muhammad. Rasulullah sendiri, sering menyatakan, “Perbanyaklah berdzikir kepada Allah meski orang lain menuduhmu gila”. Statemen Rasulullah ini sangat beralasan, karena beliau sendiri ketika berada dalam tekanan dan himpitan situasional selalu membasahkan bibirnya dengan kalimat-kalimat pujian kepada Allah.

Surah Al Imran ayat 91 menegaskan dengan sistematis bagaimana kriteria umum dari Ulil Albaab, di sana disebutkan, Orang-orang yang mengingat Allah di kala berdiri, duduk dan terbaring, dan memikirkan tentang proses penciptaan alam semesta dan bumi. Mengingat Allah adalah menyadari eksistensinya sebagai Pencipta dan Pengendali kehidupan, kita mengekspresikan tindakan tersebut dalam lafaz verbal Subhaanallah; Mensyukuri nikmatnya sebagai Maha Pemberi dan Maha Penyayang, kita tunjukkan melalui pengulangan kata-kata Alhamdulillah; dan memastikan hanya Dzat-Nya yang Maha Agung dan Perkasa, dengan memperbanyak kalimat Allaahu Akbar; Dalam segala situasi, tidak ada satu pun makhluk yang berdaya dan mampu memberi kita kekuatan selain Allah, ini kita buktikan melalui pembiasaan kalimat Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adzhiem.

Maka sejatinya, mengingat Allah haruslah menjadi terminologi sosial, jika selama ini hanya merupakan dzikir verbal yang dilakukan secara individual, maka sekarang kita arahkan menjadi dzikir implementatif. Secara sederhana, mungkin dengan menyisipkan kalimat-kalimat dzikrullah dalam setiap kegiatan yang kita selenggarakan, lalu membuat papan-papan iklan besar yang juga mencantumkan kalimat-kalimat penyadaran yang bersifat spiritual, tidak harus dengan menuliskan bahasa atau lafal Arab, karena kita berada di Indonesia, kita konversikan secara lingual agar dapat mengetuk hati setiap orang.

Muara akhir dari dialektika dzikir ini ialah meneguhnya kesadaran spiritual dalam diri seorang hamba Allah. Seperti yang termaktub dalam mukaddimah Surah Al Baqarah, bahwa sosok muttaqien adalah mereka yang meyakini eksistensi dan kekuasaan-kekuasaan ghaib, lalu terdorong untuk menegakkan dan memelihara sholatnya, selanjutnya menunjukkan kepekaan sosialnya dengan spirit berbagi dan saling mengasihi. Dan yakin bahwa sebelum Rasulullah SAW hadir, telah berlaku pula ajaran-ajaran Kitab Suci lain yang secara esensial juga mengandung doktrin-doktrin tauhid dan Pengagungan Allah. Kriteria-kriteria ini telah mewakili aspek-aspek transendental, teo-anthroposentrisme dan histrorisitas agama-agama dunia. Kesemuanya itu mengukuhkan sebuah identitas hakiki bagi seorang hamba Allah, yaitu Taqwa.

Hijrah Intelektual

Jika dzikir implementatif mulai berjalan dan terintegrasi dalam tatanan sosial kita, maka dorongan yang akan muncul selanjutnya adalah kesadaran untuk mencari dan merenungi fakta-fakta kehidupan. Setelah mengimplementasikan dzikir saat berdiri (aktifitas), saat duduk (berdiskusi) dan terbaring (istirahat), maka Surah Al Imran mengarahkan para calon Ulil Albab untuk memikirkan segala hal dalam proses penciptaan langit dan bumi. Langit dan Bumi yang dimaksud bukan hanya langit biru yang terbentang di atas kepala kita dan bola dunia yang berputar seperti globe mainan, tetapi langit dalam kesatuan universal, yang melipuiti segala unsur dan perilakunya. Dari Firman Allah dalam surah Al Imran ayat 91 itu pula kemudian manusia secara gradual membuktikan, bahwa di balik skenario dan proses penciptaan langit dan bumi ternyata melahirkan ribuan cabang ilmu pengetahuan, yang tidak lain dikembangkan untuk membongkar dan mendalami rahasia-rahasia scientis tentang perilaku alam semesta.

Ilmu pengetahuan mendapat tempat yang sangat strategis dalam ajaran Muhammad SAW. Meskipun beliau selalu mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang Ummiy (tidak bisa baca tulis), namun ribuan haditsnya justru mengemukakan fadhillah (urgensi) ilmu pengetahuan. Nubuwwahnya memang mengharuskan beliau untuk memastikan umatnya menjadi generasi pemimpin-pemimpin peradaban dunia sebagai pewaris dirinya, karena itulah beliau menekankan bahwa kemapanan dunia dan kenyamana di akhirat hanya bisa diraih dengan pengetahuan yang mapan pula. Sehingga tidak heran, ada haditsnya yang menganjurkan untuk menuntut ilmu dari lahir (mahd) sampai ke liang lahat (lahd), sebagai bentuk kepedulian beliau akan pentingnya pengetahuan bagi umatnya. Rasulullah SAW sadar sepenuhnya, bahwa kompetisi global di masa mendatang mengharuskan umatnya untuk tampil menjadi pionir-pionir peradaban, apalagi di masa beliau hidup, persaingan dengan Romawi dan Persia sudah marak berlangsung, beliau menghendaki Islam bukan sekedar kiblat spiritual bagi umat manusia, melainkan juga berfungis sebagai patron dan mercusuar pengetahuan, sehingga tatanan dunia yang sesuai dengan nubuwwahnya dapat terwujud.

Hijrah yang beliau prakarsai lima belas abad yang lampau, tidak hanya menjadi pergeseran orientasi dan sasaran dakwah atau sekedar menjauhkan diri dari serangan kaum pagan Qurais, tetapi lebih dari itu, beliau hendak membangun poros baru sebagai tempat untuk mempersemaikan gagasan-gagasan kebangkitan bangsa Arab melalui keramahan ajarannya. Pada saat yang sama, Yastrib merupakan tanah leluhurnya juga, dan di sana arus simpati kepada beliau berkembang begitu pesat. Jika di Mekkah beliau harus sibuk menjadi ahli strategi dan diplomasi perang sembari berdakwah, maka di Yastrib nantinya beliau lebih dominan berperan sebagai Maha Guru dan narasumber utama yang akan menyelaraskan perspektif peradaban baru bagi para pengikutnya. Dan itu disokong pula sepenuhnya oleh kultur Yastrib, yang toleran dan memiliki solidaritas tinggi.

Saat ini, masalah pendidikan kita sedang menghadapi masa-masa kritis, apalagi beberapa liputan di televisi swasta menyorot sisi kelam beberapa oknum pelaku pendidikan, seperti adegan murid memukul guru. Lalu perbincangan hangat saat ini tentang dugaan maraknya jual beli skripsi yang melibatkan para dosen. Jati diri intelektualitas kebimaan sedang diuji, karena selama ini mungkin pendidikan memiliki antibodi sehingga tidak tersorot oleh publik, termasuk juga kampus yang menerapkan kekebalan akademis untuk menangkal opini masyarakat. Dosen-dosen yang selalu bicara keras dan menjadi sosok yang disegani mahasiswa, juga mempunyai kebiasaan buruk walau itu musiman, yakni membuka orderan skripsi dengan tarif yang variatif.

Intelektualitas bukan hanya melulu berarti dinamika akademis para guru maupun dosen, tetapi intelektualitas adalah nilai esensial yang menjadi energi dan target pencapaian dari rentetan pembelajaran. Intelektualitas menjadi label untuk disematkan pada kebiasaan-kebiasaan akademis, termasuk perilaku para cendekiawan itu sendiri. Intelektualitas bukan serta merta menjadi kosa kata paten bagi para dosen dan pengamat, tetapi intelektualitas adalah nilai yang terus diretas. Menjadi akademisi, menduduki jabatan-jabatan kependidikan atau bahkan sering muncul di media massa, bukan jaminan bahwa seseorang mendapat pengakuan khalayak sebagai seorang intelektual. Intelektual adalah gelar kultural yang tidak bisa tercerabut hanya karena jabatan hilang, atau tidak lagi diundang menjadi narasumber. Memang masalah ini sangat relatif untuk diukur, namun kesepakatan publik juga yang akhirnya akan menentukan kadar intelektualitas seseorang.

Ada kegamangan yang menyelimuti kita, gamang akan kepercayaan dan penghormatan pada pengemban nilai-nilai ilmu pengetahuan. Ada beberapa pihak yang selalu menyebarkan pemahaman lucu, misalnya, seorang juru ceramah dan juru dakwah tidak perlu diberi amplop atau honor, mereka harus bekerja ikhlas semata karena Allah. Saya sendiri pernah berdebat dengan beberapa sahabat yang berpikiran seperti itu. Pertanyaannya adalah, apa bedanya para muballigh dan juru dakwah itu dengan Guru, Pegawai, Guide, Lawyer atau profesi-profesi lain. Syukurlah kalau para mubalig itu berlatar belakang mapan dan memiliki pekerjaan dengan jaminan sosial yang mencukupi. Paradigma berpikir kita harus berimbang, seorang dokter harus belajar bertahun-tahun untuk menguasai banyak masalah medis, lalu melakukan praktek dengan bimbingan khusus, dan pekerjaan lainnya pun memerlukan fase untuk belajar dan butuh pengakuan akademis untuk dapat dihargai dengan gaji. Begitu pula dengan mubalig, mereka juga manusia layaknya kita. Mereka bukan orang-orang suci yang tiba-tiba menjadi cerdas dengan sendirinya, tetapi mereka menekuni cabang-cabang ilmu agama itu bertahun-tahun, dari guru ke guru, dari kampung ke kampung, semestinya mereka mendapat perhatian dan penghargaan yang layak.

Coba bayangkan, mungkin penghargaan para Hafizul Qur’an masih jauh di bawah nilai yang didapat oleh juara event-event lain yang berkaitan dengan dunia entertain. Dulu, di zaman orang-orang tua kita puluhan tahun yang silam, belajar mengaji itu adalah ekstrakokurikuler wajib bagi anak-anak. Dan tidak seperti les modern yang sekedar mengatur jadwal tentatif pembelajaran, anak-anak yang belajar mengaji harus menjadi bahagian dari keluarga besar gurunya. Mereka diharuskan berkhidmat, semisal mencarikan kayu bakar, mengisikan air di pedasan, mencucikan pakaian gurunya, membawakan hadiah-hadiah dan sebagainya. Ini mengisyaratkan adanya bangunan hubungan yang tidak hanya berkutat pada apa yang diberi dan apa yang didapat, tetapi kekuatan ketaatanlah yang membuat anak-anak zaman dulunya menjadi segan, menaruh hormat dan melayani kebutuhan gurunya. Ini adalah konvensi kebudayaan yang membentuk karakter orang-orang tua kita sehingga menjadi generasi yang pantas untuk dipanuti.

Problem intelektualitas haruslah berjalan seiring dengan dialektika kebudayaan kita, walaupun nantinya adaptasi-adaptasi itu perlu diterapkan. Intelektualitas ialah kompleksitas nilai yang terkritalisasi dalam karakter keteladanan, yang hari ini kita sebut sebagai kombinasi tiga kecerdasan, yakni Intellegence Quetion, Emotional Quetion dan Spiritual Quetion. Kombinasi ini menjadi sulit terjangkau, ketika salah satu aspek terabaikan begitu saja. Maka Hijrah yang paling utama juga adalah Hijrah Intelektual, yakni reorientasi tata nilai dan sistem pengajaran, serta penyelarasan trend akademik dengan tradisi lokal yang konstruktif. Atau secara fenomenologis kita luweskan sebagai usaha menggairahkan kembali dunia pengajaran dan pendidikan modern dengan pendekatan kearifan lokal, kiranya nanti kita bergeser dari pendidikan yang semata berbasis formal-struktural menuju tata penilaian yang berbasis kultural-informal.

Semoga momentum permulaan tahun Hijriyyah 1433 ini dapat mengilhami kita sebuah kehendak perubahan dan perbaikan menuju tatanan Indonesia yang lebih bermartabat, lebih khususnya bagi kebangkitan Kota Bima untuk bersaing dalam tata pergaulan nasional

Wallaahul Muwaafiq ilaa Aqwaamit Thorieq

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,

Dzul Amirulhaq (Ketua PC GP Ansor Kota Bima)

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: