//
you're reading...
Pers Release

WASPADAI GERAKAN CUCI OTAK NII DI BIMA

Akhir-akhir ini, pemberitaan tentang gerakan pencucian otak oleh NII marak diberitakan media nasional. NII sendiri adalah Organisasi Tanpa Bentuk yang merupakan warisan lama yang bertujuan merubah Indonesia menjadi Negara Islam, tentu mereka anti Pancasila. Meskipun Kota Bima belumlah masuk wilayah Kota Besar seperti beberapa Kota di pulau Jawa, tetapi kita harus tetap mewaspadai gerakan NII ini. Kota Bima termasuk salah satu daerah yang berpotensi untuk tumbuh suburnya gerakan-gerakan seperti ini, vandalisme dan pemaksaan atas nama agama. Meskipun kita mayoritas Islam, tapi dakwah dengan cara cuci otak, kumpul uang untuk tebus dosa, ini sudah aneh.

Berdasarkan informasi yang beredar di beberapa stasiun TV swasta, mahasiswa Bima di Malang menjadi korban pencucian otak oleh aktifis NII. Ini informasi langsung dari salah satu pimpinan GP Ansor Kota Bima yang sedang berada di sana untuk mendampingi penyelesaian masalahnya.

Seperti yang kita ketahui, bahwa gerakan NII mulai mengincar para remaja dan mahasiswa. Di kota Bima ini ada ribuan mahasiswa, kita harus menjaga jangan sampai juga disusupi oleh gerakan NII, gerakan mereka bisa langsung terorganisir secara sistematis, bisa juga melalui pendekatan personal. Bisa saja tanpa kita sadari mereka menyusupi kelompok-kelompok kajian tertentu untuk menyebar doktrin-doktrin NII. Kita harus ingat, bahwa NII bergerak bawah tanah, dan berusaha untuk melebarkan pengaruh ke seluruh wilayah di Indonesia, jika kita lengah maka mereka akan memanfaatkan situasi.

Untuk menangkal ini, perlu ada pengawasan bersama dari semua pihak. Sekarang banyak bermunculan aliran dan gerakan yang mengatasnamakan Islam, tapi tindakan dan doktrinnya mengingkari budaya Islam yang dikembangkan oleh masyarakat Bima sejak dahulu kala. Hak untuk berserikat dan mengemukakan pendapat itu dilindungi UU, kajian-kajian agama tetap diharuskan untuk penguatan aqidah, pemahaman muamalah dan penataan akhlak, ini wajib. Tapi Islam yang kita kembangkan di Indonesia ini adalah Islam yang toleran dan ramah budaya. Bukan Islam yang main paksa, karena Al Qur’an tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Apalagi kalau ada yang menggunakan kekerasan terselubung, sampai mengkafirkan orang lain, atau mengucilkan diri dari pergaulan sosial, ini kan aneh.

Gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam itu tidak masalah. Semakin banyak semakin bagus karena masyarakat memang membutuhkan wadah curhat, jadi wahana bertukar pikiran, untuk character building juga bagus. Namun perlu ditelusuri lebih dalam, kalau ada yang sedikit mencurigakan ya kita bisa tanya pada guru-guru atau ulama kita yang lebih banyak tahu masalah agama. Sekarang modusnya aneh-aneh, sampul dan simbolnya religius tapi kok sinis memandang orang lain, maunya kelompok mereka sendiri yang benar, yang lainnya itu bukan kaum mereka, ini juga ngawur.

Karena itu pula, saat ini Gerakan Pemuda Ansor akan turut memantau gerakan-gerakan mencurigakan itu, Alhamdulillah pengurus di pimpinan-pimpinan Ranting akan menjadi benteng ketahanan budaya dan Islam di kampung-kampung. Termasuk pengajian rutin keliling Ansor di kampung-kampung, GP Ansor Kota Bima juga akan membentuk Majelis Dzikir Rijalul Ansor, ini akan menjadi forum sederhana untuk berkumpul, berdzikir, bikin kajian bersama dengan remaja-remaja Masjid.

Terkait dengan meningkatnya intensitas ancaman terorisme yang marak akhir-akhir ini, GP Ansor Kota Bima sedang fokus untuk menambah jumlah personil Banser (Barisan Ansor Serba Guna), tentu melalui pelatihan dan pendidikan yang sesuai arahan nasional untuk membantu pihak TNI dan Kepolisian terutama dalam hal penyerapan dan pertukaran informasi, semuanya tetap melalui koordinasi dengan pemegang otoritas. Karena baru-baru ini kita ketahui, bahwa gerakan teror bom sudah masuk fase nekat, sesudah bom buku disusul bom bunuh diri di masjid kepolisian, lalu bom 150 kg di sebuah Katedral. Walaupun di Kota kecil, tapi kita harus tetap awas, karena Cirebon juga itu kota kecil yang selama ini juga tidak diduga akan jadi sasaran instabilitas terorisme. Bisa saja mereka rekrut orangnya di sini tapi dioperasikan ke wilayah lain. Semua kemungkinan harus dijaga, meski kita tidak boleh terlalu paranoid lah.

Kota Bima, 23 April 2011

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: