//
you're reading...
Pers Release

USUT TUNTAS SMS PENGIRIM TEROR

Tanggal 25 April 2011, pesan singkat berisi teror bom diterima oleh beberapa orang di Bima. Isinya mamberitahukan ada bom yang disimpan di beberapa tempat, yakni di bekas Istana Bima (sekarang menjadi Museum ASI Mbojo), Kantor Cabang BRI, Kantor Pemkab Bima dan Kediaman salah satu staf ahli Bupati. Kami mensinyalir, bahwa ini ada tiga kemungkinan motif, Pertama adalah motif ekonomi politik, ini ulah antagonistik dari sekelompok orang yang tidak ingin pembangunan di Kota Bima ini maju pesat, ada phobia dan ketakutan dari pihak-pihak yang ingin mengacaukan pertumbuhan ekonomi di Kota Bima, dengan maksud memperburuk citra stabilitas Kota Bima bagi iklim investasi, dilihat dari sasaran terornya yang mengarah pada tempat-tempat strategis seperti BRI, Museum Asi Mbojo dan Kantor Pemkab. Tiga gedung ini adalah simbol di Kota Bima, BRI termasuk simbol perekonomian, ASI sebagai simbol kebudayaan, dan Kantor sebagai simbol pemerintahan. Kemungkinan motif yang Kedua, ini adalah gerakan teror yang mirip dengan teror-teror radikalisme atas nama agama yang marak di Indonesia akhir-akhir ini, ada kelompok yang mencoba untuk memanfaatkan situasi trauma publik pasca banjir bandang, di Kota dan Kabupaten Bima, mereka berhasil memanfaatkan momentum, bisa momentum politik, momentum kebudayaan atau momentum-momentum lain, sehingga masyarakat tidak mencurigai gerakan tersebut sebagai skenario mereka, apalagi sasaran teror mereka bukan rumah ibadah melainkan simbol daerah. Ini adalah indikasi sekaligus pesan sandi bahwa kelompok-kelompok ekstrem radikal sedang menampakkan eksistensi mereka. Kami menduga kalau ini sebuah rantai kerja yang sistematis dari sebuah jaringan terorganisir dan terlatih, khusus di Bima mereka mencoba manfaatkan momentum, ada usaha mengalihkan perhatian juga sehingga terkesan ini teror bernuansa politis. Ketiga, ini dilakukan oleh orang-orang Psikopat dan frustrasi yang senang mengadu domba masyarakat, senang nonton kekacauan, senang lihat Bima tidak nyaman, tentunya dengan target pemuasan diri sendiri, apalagi sehari sebelumnya di Sape dan beberapa wilayah Kota Bima masih dilanda trauma Banjir.

Kota Bima ini kota kecil, kelompok-kelompok tukang teror senang memanfaatkan ini, apalagi mereka begitu leluasa bergerak tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak-pihak keamanan. Dulu ada bom di KPUD Kabupaten Bima, sudah meledak, tapi kita tidak tahu pelakunya. Lalu paket serupa bom di Manggemaci, ini kan sudah pernah terjadi. Coba saja simak persidangan kasus dugaan terorisme seorang tokoh, saya pernah baca di sebuah situs berita, bahwa uang yang disebut-sebut dikirim untuk pembelian senjata di Aceh itu ternyata juga bersumber dari iuran anggota mereka yang ada di Bima. Barangkali kita perlu selangkah lebih berani untuk memunculkan asumsi-asumsi yang tidak semata berkutat di ranah politik-ekonomi. Ini teror, bagaimana pun masyarakat Kota Bima harus tetap merasa aman dan tenteram. Teror itu sama dengan fitnah, lebih kejam dari pembunuhan, karena menyerang langsung ke psikologi penerima teror.

Kami meminta kepada aparat keamanan agar kita tidak sampai kecolongan, apalagi Presiden juga sudah mengeluarkan instruksi status Negara Siaga I pasca bom bunuh diri dan penemuan bom di pipa gas dekat Katedral. Kita tidak boleh mengansumsi bahwa ini semata bermodus politik. Soal teror begini, kita mesti tanggap pada sisi pesannya, bahwa ini adalah upaya untuk mengganggu stabilitas, meresahkan publik, dan menciptakan rasa tidak aman bagi masyarakat. Terlepas dari apapun akhirnya motif dari pelaku teror ini, sesungguhnya ini tindakan pengecut, tidak beradab, dan tidak sesuai dengan karakter masyarakat Bima pada umumnya. Jarang ada orang Bima yang isengnya separah ini, dan jarang juga yang mau bikin kacau kampungnya sendiri, kecuali dia sudah psikopat.

 

Gerakan Pemuda Ansor tetap percaya bahwa pihak kepolisian dan TNI akan mampu membongkar sindikat teror ini. Tentu kita sebagai masyarakat wajib mengapresisasi dan memback-up langkah-langkah strategis pihak keamanan. Kita harus tetap tenang sambil meningkatkan kewaspadaan dan menunggu investigasi tuntas dari Kepolisian. Gerakan Pemuda Ansor sesuai instruksi Pimpinan Pusat juga diminta untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak keamanan dan stakeholder untuk membantu membentengi masyarakat dari penyebaran doktrin-doktrin radikalisme, terutama radikalisme agama. Kasihan generasi kita, adik-adik kita, mereka yang masih remaja, atau mungkin depresi dengan keadaan, bisa saja jadi target perkawanan oleh mereka, didoktrin sedikit demi sedikit sampai akhirnya terlena. Kita harus tetap waspada. Mungkin siskamling bisa dihidupkan lagi, forum pengajian, dzikir dan sholawatan di kampung –kampung juga perlu diaktifkan kembali. Alhamdulillah Gerakan Pemuda Ansor sudah mencoba untuk menggelar itu secara keliling sambil bentuk Banser di kampung-kampung. Kami berkewajiban untuk menjaga dan membentengi Kota ini, jangan bebankan pada Pemerintah dan Kepolisian saja, Organisasi-organisasi pemuda juga perlu turun ke kampung-kampung menjadi pemberi rasa aman.

 

Kota Bima, Senin 25 April 2011

ttd

Dzul Amirulhaq

Ketua

 

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: