//
you're reading...
Pers Release

SIKAP KMNU BIMA ATAS INSIDEN PONPES DI SANOLO

Insiden ledakan bom di wilayah Bima dan Dompu menjadi fenomena teror yang memprihatinkan. Ini sudah masuk pada tingkat sangat membahayakan. Di wilayah Bima sendiri terjadi dua peristiwa teror dalam dua pekan, pertama insiden penusukan seorang anggota polisi, dan yang baru terjadi adalah peledakan bom di kawasan pesantren umar bin khattab. Uniknya lagi, pelaku penusukan polisi tidak lain adalah santri dari ponpes ini. Benang merahnya mungkin harus ditemukan, dan kita yakin Kepolisian akan mampu membongkar akar terorisme ini.

Terlepas dari siapa pelaku dan motif dari peledakan bom tersebut, yang jelas tindakan itu hanya dilakukan oleh para pengecut dan sekelompok orang dongkol yang krisis akhlak. Apa yang kita lihat di televisi dan media massa nasional seolah memberi gambaran bahwa saat ini daerah kita sedang diobok-obok, dibuat tidak aman. Gerakan Pemuda Ansor menilai ledakan bom ini seperti sudah didesign dengan rapi, kita punya catatan, bulan april yang lalu juga heboh ada pesan singkat berisi teror bom di beberapa lokasi strategis. Lalu tiba-tiba kita tersentak dengan tragedi di polsek Bolo, dan kemarin Republik ini menyaksikan di televisi bahwa ada bom meledak di Bima. Ini peristiwa lokal, sebuah teror yang muncul di desa, tetapi skalanya global, dunia pun pasti sudah tahu.

Kita tidak ingin berspekulasi dan menebarkan asumsi-asumsi di balik  peristiwa ini. Tetapi kita bisa simpulkan sementara, bahwa di wilayah Bima ini telah terbangun sebuah jaringan teror tingkat tinggi yang dihandle oleh seorang aktor intelektual, misinya banyak, tapi yang paling utama kepentingan mereka ialah bagaimana membangun keresahan secara sporadis di tengah masyarakat, menciptakan ketidaknyamanan dan menebar wabah saling curiga. Secara mental, masyarakat Bima di mana pun, tatkala melihat berita di televisi menjadi heran, terenyuh, takut, paranoid, resah. Belum lagi kita bicarapada kepastian perputaran ekonomi, kenyamanan perjalanan dan aktifitas lain, teror ini sudah berhasil menciptakan instabilitas di daerah kita, sudah meruntuhkan citra Bima sebagai daerah yang ramah, aman dan berbudaya.

Tema teror ini adalah pondok pesantren, dibuat preseden bahwa pondok pesantren itu identik dengan terorisme, padahal tidak semuanya. Karena itulah, di sini Kementerian Agama Kota maupun Kabupaten Bima harus mengupdate data statistik tentang pertumbuhan dan perkembangan pondok-pondok pesantren yang ada di Bima. Yang kita tahu namanya pondok pesantren, tapi kok mengucilkan diri dari masyarakat, tiba-tiba dapat sumbangan, tiba-tiba pula jadi lumbung masalah. Kalau sebut pondok pesantren berarti ini soal citra Islam di Bima. Kami yang dari GP Ansor dan NU misalnya menjadi terpukul dengan berita yang menyebut bahwa pelaku pembunuhan polisi itu adalah santri. Dia santri ngaji kitab apa? Gurunya ajarin apa, masa’ ajarin jihad bunuh-bunuhan? Pesantren yang seharusnya jadi benteng pencerahan umat, sekarang di Bima malah jadi markas latihan calon-calon teroris. Ini mungkin perlu diapresiasi oleh Depag yang mempunyai otoritas untuk melakukan pendataan dan sosialisasi.

Situasi saling curiga ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama, kita harus tetap waspada, tetapi juga perlu langkah-langkah terpadu dari semua komponen untuk mencegah infiltrasi ajaran-ajaran ngawur di tengah masyarakat. Dari zaman pertama kali Islam itu masuk ke Bima, kelompok-kelompok radikal ekstrem itu memang ada, tapi mereka ini jumlahnya kecil dan mengucilkan diri, meskipun secara kuantitas sedikit, tapi mereka ini membangun gerakan teror yang berkapasitas dan berkualitas. Ini terjadi karena kelonggaran dari kita semua. Dulu Islamnya baik-baik saja, kita punya Ulama kelas dunia, punya Qori’ kelas internasional, orang luar sana tahu kalau mau memperdalam ilmu agama datanglah ke Bima. Tetapi setahun terakhir ini malah jadi terbalik, di sini ada jaringan teror berskala internasional, di sini jangan-jangan jadi tempat persembunyian teroris kelas kakap. Nah, ini akibat adanya pergeseran fundamen sosial budaya kita. Doktrin terorisme ini kan doktrin import, dibawa masuk dari luar, lalu tumbuh subur di daerah, bertemulah dengan karakter Kebimaan kita yang memang keras dan nekad. Dan harus digarisbawahi ialah pelaku pembunuhan polisi di Polsek Bolo itu mungkin menjadi pelaku teror termuda di Indonesia. Operator-operator teror melihat ada peluang untuk menjadikan Bima ini sebagai benteng mereka, inilah yang perlu kita lawan dengan bijak.

Karena itulah, kami dari Gerakan Pemuda Ansor dan elemen-elemen muda Nahdlatul Ulama lainnya di wilayah Bima, secara khusus meminta kepada Pemerintah agar dapat membangun kolokium atau halaqoh budaya, untuk membahas persoalan ini secara serius, bagaimana nantinya MUI, Ormas-ormas dilibatkan, OKP-OKP, Departemen Agama, instansi terkait dan para stakeholder, kita perlu merumuskan sebuah persepsi dan resolusi untuk membentengi Kota dan Kabupaten Bima dari gempuran teror dan kekerasan yang bertopeng agama. Kerasnya pandangan dan tindakan kelompok radikal ekstrem ini jangan kita lawan dengan keras, tetapi kita melakukan pendekatan bil mauidzhatil hasanah (cara persuasif yang bijak). Terhadap peningkatan aktifitas pengamanan dan razia oleh aparat kepolisian dan TNI itu wajib didukung oleh seluruh elemen masyarakat Bima, karena petugas tidak ingin kecolongan, kalau ada tindakan-tindakan sekelompok orang yang mencurigakan, tidak perlu takut untuk melaporkannya pada pihak keamanan untuk ditelusuri dan dipantau. Cukuplah dua tragedi merenggut dua korban jiwa, jangan lagi ada tindakan-tindakan jahiliyyah seperti itu.

Kami dari Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serba Guna siap untuk membentengi daerah ini dari penyusupan doktrin-doktrin pembelokan paham keislaman, agar tatanan sosial masyarakat kita tetap aman dan damai. Kami sudah menginstruksikan seluruh jajaran GP Ansor di semua tingkatan, dari ranting, PAC dan Banser untuk mengawasi dan menjaga wilayah kerja dan lingkungan masing-masing, karena Terorisme bukan hanya musuh Ansor tapi juga musuh Tuhan, apalagi ini menjelang bulan ramadhan, ummat Islam ingin melaksanakan rutinitas spiritual tahunan ini dengan khusyu’ dan khidmat, jangankan bom, petasan saja jangan dibiarkan beredar di mana-mana. Kepada saudara-saudara yang masih tersesat dengan doktrinnya itu kiranya untuk segera menghentikan kejahilan dan kejumudannya, syurga bukan hanya milik satu atau dua kelompok, syurga itu bukan dibayar dengan bunuh orang atau bunuh diri.

 

Bima, 12 Juli 2011

Ttd

Dzul Amirulhaq, S.Pd.I

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Bima

Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Bima

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: