//
you're reading...
Pers Release

SATUKAN PERSEPSI HADANG TERORISME DI BIMA

Pasca insiden ledakan bom di desa Sanolo, sejauh ini Kota Bima masih kondusif, meskipun efek trauma tetap saja ada di kalangan sebagian masyarakat. Fakta-fakta menunjukkan bahwa agenda terselubung yang diendus oleh pihak kepolisian adalah adanya rencana untuk menyerang beberapa pos kepolisian. Karena itulah, peran aktif masyarakat mutlak diperlukan untuk membasmi gerakan-gerakan fatalisme dan terorisme seperti itu.

Masyarakat Kota Bima tidak perlu khawatir dengan upaya aparat keamanan yang meningkatkan intensitas razia dan patroli di berbagai tempat, karena itu semua semata-mata demi mengamankan wilayah. Karena efek teror itu bukan hanya mengenai sekelompok tertentu, tetapi juga bisa menyerang psikologi kolektif masyarakat. Justru dalam situasi seperti ini, kita harus pro aktif dan manunggal bersama aparat keamanan, begitu pun sebaliknya, aparat keamanan pun harus kian bersahabat dengan masyarakat.

Perlu ada penyatuan persepsi, meluruskan penafsiran-penafsiran atas apa yang muncul di permukaan. Jangan sampai dikembangkan spekulasi bahwa seolah-olah Polisi mencurigai orang Islam. Ini sensitif, ranah agama bagi masyarakat Bima sangat sensitif. Tidak ada yang melarang pengajian, majelis taklim atau kegiatan-kegiatan ibadah, dan aparat keamanan pun bertugas menjaga ketertibannya. Yang salah adalah, doktrin-doktrin agama yang diartikan menurut selera kelompok, yang secara langsung kemudian mengarahkan bahkan memperbolehkan tindakan kekerasan atas nama agama dan membawa-bawa nama Tuhan, lalu mengelompokkan diri secara ekslusif dan menyepi dari pergaulan sosial, jangankan polisi, masyarakat biasa pun pasti curiga kalau ada pengajian-pengajian tertutup yang menolak kehadiran orang lain tanpa alasan jelas. Jangan pula ada preseden yang berusaha membenturkan Polisi dengan Islam, itu sesat. Karena Polisi juga beragama, coba lihat peristiwa Cirebon, itu bomnya diledakkan di masjid, hanya karena itu masjidnya polisi. Kalau kemudian ada oknum polisi yang diduga melanggar hukum, ada prosedur untuk melaporkannya. Jangan kemudian digeneralisir bahwa satu oknum bermasalah lalu satu institusinya dianggap bermasalah.

Tatanan beragama masyarakat Bima selama hampir empat abad ini sangat baik, indah, ramah, toleran dan berbudaya. Nilai-nilai syariat berjalan seiring dengan fundamen adat-istiadat. Kalau pun kemudian muncul gerakan-gerakan radikal, itu justru bernuansa sektarian. Cara pandang sekelompok kecil aliran yang melihat bahwa polisi adalah musuh, adalah cara pandang yang picik, kita harus mengedepankan segala hal dengan prinsip tawazun (seimbang) dan tawasuth (obyektif). Saya justru bertanya-tanya, apakah mereka yang belajar doktrin jihad sesat itu tidak punya keluarga atau kerabat yang jadi aparat? Lalu mereka menyimpulkan bahwa polisi itu musuh.

Tidak perlu kemudian phobia karena punya jenggot atau sering mengenakan gamis kalau ke masjid. Identitas keislaman dan ketakwaan itu bukan dinilai dari penampakan luar semata, jangan merasa bahwa polisi sedang mengawasi orang-orang berjenggot dan berjubah. Di Kepolisian itu ada Protap Pengawasan dan SOP intelijennya, berdasarkan data dan fakta, bukan atas dasar like or dislike. Tidak benar bahwa polisi itu akan main ciduk atau main tangkap. Kita harus tetap tenang dan melihat permasalahan ini dengan bijaksana dan proporsional.

Yang paling penting ialah, bagaimaan peran aktif para stakeholder di ranah keagamaan mutlak diperlukan. Kemnag Kota Bima misalnya, supaya bisa merilis dan mengupdate data pondok pesantren yang ada, lalu berkumpul dengan Organisasi-organisasi Kepemudaan, Ormas dan para Imam masjid dan Lebe yang di Kota. Bukan bermaksud untuk memperlebar persoalan, tapi kita juga harus punya kewaspadaan dini agar peristiwa seperti di Desa Sanolo itu terulang, jangan ujung-ujungnya setelah ada kejadian lalu sibuk buka file, muncullah klaim ilegal, tidak beroperasi atau tidak mengantungi ijin. Kesbanglinmaspol juga perlu mengupdate data tentang Yayasan, LSM dan OKP, terlebih pada OKP berhaluan agama. Perlu ada sinergi dan gerak langkah yang terpadu dalam upaya mewujudkan stabilitas daerah. Bukan hanya karena soal teror berkedok agama saja, tetapi teror dalam bentuk apapun yang meresahkan masyarakat.

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: