//
you're reading...
Pers Release

PERS RELEASE : SARASEHAN SEHARI

Fenomena radikalisme agama di Bima menjadi perbincangan dan perhatian nasional pasca ledakan bom di pondok pesantren Umar Bin Khatab Sanolo Kabupaten Bima. Hampir semua stasiun televisi nasional mengangkat tersebut beberapa hari berturut-turut, termasuk ulasan para tokoh agama dan para pengamat. Tak bisa disangkal memang bahwa tema radikalisme sejauh ini masih memunculkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, bahkan ada sebagian pihak mensinyalir bahwa peristiwa-peristiwa yang muncul dalam skala nasional disinyalir hanya sebagai upaya pengalihan isu belaka. Radikalisme agama, dalam pengertian konotatif sebagai ide dan praktik kekerasan bermotif agama, bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia.  Khusus di Bima, kekerasan-kekerasan serupa bukan baru terjadi saat ini, tahun 1998 misalnya, muncul kerusuhan akibat bias terhadap pembacaan roda perekonomian lokal yang kemudian mengarah pada kisruh soal SARA yang juga memantik adanya upaya politik identitas keagamaan.

GP Ansor sendiri mempunyai pandangan bahwa kematangan Islam di Bima memungkinkannya menyumbang begitu banyak khazanah budaya justru karena dilandasi keyakinan keagamaan yang utuh. Semangat keragaman (roh al-ta’addudiyyah), semangat keagamaan (roh al-tadayyun), semangat nasionalisme (roh al-wathaniyyah), dan semangat kemanusiaan (roh al-insaniyyah). Tetapi spirit ini kemudian tergugat pasca pemberitaan televisi-televisi nasional bahwa di Bima terdapat Pondok Pesantren bercorak radikal, termasuk statemen dari salah satu petinggi JAT bahwa basis struktural cabang JAT di Indonesia hanya ada di Solo dan Bima. Kemudian dalam persidangan Abubakar Ba’asyir juga terkuak bahwa aliran dana untuk membiayai pelatihan militer di Aceh sebagiannya bersumber dari Bima. Inilah kemudian yang membentuk stigma bahwa Radikalisme Agama di Bima memiliki format tersendiri dalam pemetaan nasional.

Sebagai daerah bekas Kesultanan, kita tentu tidak serta merta menerima adanya tudingan bahwa Bima menjadi basis persemaian Islam radikal, karena Islam bagi masyarakat Bima telah menjadi sebuah Konstitusi Tidak Tertulis yang terintegrasi dalam norma maupun pranata sosial. Kalaupun kemudian dinilai bahwa Islam di Bima adalah Islam garis keras, itu mungkin tidak selamanya berarti bahwa syiar dakwah Islam di Bima mengarah pada terminologi radikal atau mengarah pada sindikat terorisme. Atau boleh jadi, dari sekian banyak fenomena dan data yang ada, di Bima ini telah terbangun sebuah poros gerakan Islam radikal yang menginspirasi terjadinya aksi kekerasan agama, telah ada sebuah gerakan yang terprogram secara sistematis. Inilah kemudian yang perlu kita diskusikan secara bersama-sama.

Gerakan Pemuda Ansor sendiri mencatat ada beberapa tiga peristiwa yang mengemuka di tahun 2011 ini, yang mengarah pada indikasi adanya gerakan radikalisme agama. Pertama, SMS berisi teror bom di beberapa tempat strategis di Bima pada bulan april. Kedua, Tragedi penyerangan terhadap petugas Polsek Bolo oleh “santri” pondok pesantren Umar Bin Khattab. Dan ketiga, puncaknya ialah ledakan bom di area ponpes Umar Bin Khattab yang menewaskan salah satu staf ponpes. Ketiga rentetan peristiwa ini patut diapresiasi oleh semua pihak, setidaknya untuk membangun kewaspadaan dini agar tidak ada infiltrasi paham kekerasan dan teror dalam wilayah Kota Bima.

Karena itulah, Gerakan Pemuda Ansor Kota Bima tergerak untuk memfasilitasi sebuah sarasehan sederhana dengan tema sentral Membangun Kesadaran dan Strategi Penanggulangan Radikalisme Agama di Wilayah Kota Bima. Kegiatan ini sengaja digelar di bulan Ramadhan untuk memperkuat spirit ketaqwaan dan persaudaraan Islam rahmatan lil alamin, bertepatan pula sehari sesudah peringatan 66 tahun Kemerdekaan RI, agar menggugah kesadaran kita sebagai bangsa yang berbhineka tunggal ika dengan semangat menjaga keutuhan NKRI dan Pancasila. Tujuan kegiatan ini adalah, Pertama, Mencegah, menanggulangi, dan meredusir berkembangnya pemahaman ajaran-ajaran Agama Islam yang melahirkan sikap dan tidakan radikal yang mengarah pada tindakan radikalisme atau terorisme. Kedua, Memberikan dan meningkatkan pemahaman mengenai ajaran-ajaran Islam yang terbuka, plural, dan egalitarian, serta membangun kesadaran individu, kelompok, dan lembaga/ormas Islam untuk mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketiga, adanya penguatan lembaga-lembaga atau Ormas Islam untuk meredam dampak negatif kelompok Radikal dari luar kota Bima.

Sebagai kesatuan paham dan gerakan, radikalisme agama tak mungkin dihadapi dengan tindakan dan kebijakan yang parsial. Dibutuhkan perencanaan kebijakan dan implementasi yang komprehensif dan terpadu. Problem radikalisme agama merentang dari hulu ke hilir, karena itulah beberapa pemangku kepentingan kami undang untuk menjadi narasumber dalam sarasehan ini, antara lain Kementerian Agama Kota Bima, Kepolisian Resor Kota Bima, Forum Komunikasi Umat Beragama Kota Bima dan Majelis Ulama Indonesia. Tahap awal ini kami mengundang tidak lebih dari 70 peserta yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat, serta kelompok LSM. Sasaran ini dapat dijadikan sebagai sarana pendukung untuk mempengaruhi atau mengajak sasaran utama agar tidak terlibat atau terpengaruh dengan paham kelompok Islam Radikal. Beberapa kelompok yang akan dijadikan sasaran pendukung, antara lain HMI, PMII, dan IMM dalam rangka penguatan kelompok-kelompok Islam Moderat guna mencegah pengaruh negatif jaringan kelompok radikal yang memiliki link up dengan Islam Garis Keras.

Ke depan diharapkan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini mendapat perhatian dari banyak pihak sehingga bukan hanya sarasehan di tingkat Kota, tetapi juga dapat meretas sampai ke kelurahan-kelurahan dan kampung-kampung, untuk mengingatkan kita akan bahaya laten radikalisme, sehingga terwujud sikap, tingkah laku, dan opini masyarakat yang saling menghormati atas perbedaan pemahaman dan keyakinan, saling melindungi hak-hak manusia, serta terciptanya rasa aman penuh kedamaian.  Sebagai salah satu elemen bangsa, menjadi tanggung jawab bagi GP Ansor untuk menjaga Kota Bima dari arus masuk paham-paham radikal dalam bentuk apapun, di tengah upaya pemerintah Kota Bima mencitrakan daerah ini sebagai daerah yang ramah dan toleran bagi investasi. Menjaga umat, menjaga Kota, menjaga kekayaan budaya, itu tekad Ansor.

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: