//
you're reading...
Pers Release

DISKUSI PUBLIK KEAGAMAAN TENTANG RADIKALISME

Pada bulan Agustus lalu, GP Ansor menggelar sarasehan dengan tema sentral Membangun Kesadaran dan Strategi Penanggulangan Radikalisme Agama di Wilayah Kota Bima, alhamdulillah kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 80 orang peserta dari berbagai elemen kemasyarakatan seperti Remaja Masjid, Pengurus Pondok Pesantren dan beberapa OKP kemahasiswaan. Beberapa persoalan krusial tentang radikalisme agama di Bima telah kami coba rumuskan dalam sebuah analisis sosial sederhana, sehingga diperlukan langkah-langkah tepat untuk mereduksi gerakan-gerakan seperti itu. Kita tidak bisa menampik bahwa kematangan Islam di Bima memungkinkannya menyumbang begitu banyak khazanah budaya justru karena dilandasi keyakinan keagamaan yang utuh. Sebagai daerah bekas Kesultanan, selama hampir tiga abad, Bima merupakan basis pertumbuhan pemikiran-pemikiran Islam di Indonesia timur, didukung dengan corak dan gerak kebudayaan Islam yang membumi dalam tradisi masyarakat Bima. Jika ditilik secara sosio-historis mengikuti pembabakan-pembabakan sejarah, maka ide-ide praksis Keislaman di Bima cenderung selaras dengan spirit multikulturalisme yang menjadi blueprint Islam Indonesai, di dalam manifestasinya, lembaga-lembaga pendidikan awal di Bima pada masa 1920an selalu menitikberatkan semangat keragaman (roh al-ta’addudiyyah), semangat keagamaan (roh al-tadayyun), semangat nasionalisme (roh al-wathaniyyah), dan semangat kemanusiaan (roh al-insaniyyah), yang dibingkai secara indah dalam fundamen adat istiadat. Tetapi spirit ini kemudian tergugat pasca pemberitaan televisi-televisi nasional bahwa di Bima terdapat Pondok Pesantren bercorak radikal, termasuk statemen dari salah satu petinggi JAT bahwa basis struktural cabang JAT di Indonesia hanya ada di Solo dan Bima. Kemudian dalam persidangan Abubakar Ba’asyir juga terkuak bahwa aliran dana untuk membiayai pelatihan militer di Aceh sebagiannya bersumber dari Bima. Inilah kemudian yang membentuk stigma bahwa Radikalisme Agama di Bima memiliki format tersendiri dalam pemetaan nasional.

Kita tentu tidak serta merta menerima adanya tudingan bahwa Bima menjadi basis persemaian Islam radikal, karena Islam bagi masyarakat Bima telah menjadi sebuah Konstitusi Tidak Tertulis yang terintegrasi dalam norma maupun pranata sosial. Kalaupun kemudian dinilai bahwa Islam di Bima adalah Islam garis keras, itu mungkin tidak selamanya berarti bahwa syiar dakwah Islam di Bima mengarah pada terminologi radikal atau mengarah pada sindikat terorisme. Bahkan dari sarasehan tersebut terurai dengan jelas dari beberapa peserta, bahwa radikalisme yang tumbuh berkembang di Bima tidaklah seperti dalam perspektif “terorisme” yang mencuat di televisi, namun eksistensi beberapa oknum penyalah guna persepsi jihad memang sulit untuk dideteksi secara dini.

Pada awal tahun 2010, Pemerintah mulai menggagas sebuah desain nasional Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa dalam dunia pendidikan kita. Ada sebuah alur berpikir yang coba dirumuskan dalam bentuk program terintegrasi, yang hari ini kita kenal dengan Pendidikan Karakter yang sudah diterapkan oleh seluruh sekolah. Permasalahan besar yang terungkap selama ini memang mengisyaratkan sebuah gerak pergeseran yang signifikan dalam tatanan perilaku kebangsaan kita, sebutlah adanya Disorientasi dalam implementasi nilai‐nilai Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai‐nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa dan melemahnya kemandirian bangsa. Usaha untuk mengembalikan kekuatan bangsa ini bukan hanya menjadi tugas dan fungsi sekolah yang dilihat secara sepihak, bukan hanya bertumpu sebagai program pemerintah saja, tetapi ada suatu tanggung jawab kolektif yang diemban oleh seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi menanamkan kembali benih-benih kebudayaan, lalu membangun model karakter yang konstruktif dalam diri generasi muda kita, semua pihak harus mengambil peran, dari Keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, dunia usaha dan media massa. Semuanya memerlukan penyelarasan visi pembentukan karakter bangsa.

Menyoal Pendidikan Karakter tentu tidak akan pernah terlepas dari point of view pembangunan akhlak yang diajarkan dalam Islam. Pendidikan Karakter hari ini adalah sebuah program tindakan yang muncul dalam ranah isoteris, sedangkan nilai-nilai Akhlak dalam nash Al qur’an dan Sunnah Nabi masih dominan dibahas secara dogmatis dalam ranah esoteris. Kedua ranah inilah yang nantinya kita coba pertautkan dalam perspektif Keindonesiaan hari ini. Karena secara faktual, maraknya indoktrinasi radikalisme Islam akhir-akhir ini acap kali melabrak tatanan keindonesiaan kita sebagai bangsa yang majemuk (multikultural). Meskipun masih dianggap sebagai perilaku individu seperti bom bunuh diri, penyerangan alat-alat negara, dan teror-teror bermuatan SARA, namun frekuensi tindakan tersebut sudah memasuki titik yang cukup mengkhawatirkan kita. Itulah kemudian yang perlu kita kupas, untuk mencari format baku dalam upaya pencegahan dini dan meminimalisir benih-benih radikalisme ini.

Oleh karena itu, Gerakan Pemuda Ansor Kota Bima sebagai salah satu pilar kekuatan sipil pemuda tergerak untuk menginisiasi perbincangan-perbincangan mengenai permasalahan ini. Sekaligus ini menjadi tindak lanjut dari sarasehan yang pernah kami gelar pada bulan Agustus lalu. Kegiatan ini kami namakan dengan Diskusi Publik Keagamaan yang mengambil tema sentral “Islam dan Pendidikan Karakter dalam Perpektif Keindonesiaan;
Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Radikalisme di Kota Bima”
. Diskusi Publik ini secara kebetulan kami selenggarakan pada saat persidangan beberapa tersangka kasus Terorisme Bima mulai hangat dibicarakan dalam beberapa media massa nasional. Kiranya momentum ini dapat menjadi titik balik bagi upaya kita untuk meluruskan kembali citra Kota dan Kabupaten Bima sebagai daerah religius yang toleran dan aman.

Diskusi ini akan menyerap pandangan beberapa institusi dan stakeholder seperti Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia dan Akademisi Pendidikan. Dan kemungkinan nantinya akan bisa diarahkan pada penyelarasan butir-butir rekomendasi bagi pengembangan model Pendidikan Karakter Islam pada satuan-satuan pendidikan, lebih khusus bagi para pengajar dan kelompok-kelompok kajian keagamaan. Dari Kementerian Agama akan mengupas Penguatan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Berbasis Pembangunan Karakter bagi Generasi Muda, MUI dengan tema  Membumikan Nilai-Nilai Universalitas Islam Menentang Isu Radikalisme. Tujuan kegiatan ini adalah, Pertama, Mencegah, menanggulangi, dan meredusir berkembangnya pemahaman ajaran-ajaran Agama Islam yang melahirkan sikap dan tindakan radikal yang mengarah pada tindakan radikalisme atau terorisme. Kedua, Memberikan dan meningkatkan pemahaman aspek-aspek kependidikan Islam yang terbuka, plural, dan egalitarian, serta membangun kesadaran individu, kelompok, dan lembaga/ormas Islam untuk mengaplikasikan nilai-nilai Karakter Bangsa dalam pola interaksi dan pengembangan masyarakat. Ketiga, adanya penguatan dan penajaman visi pendidikan Islam Rahmatan Lil Alamin dalam satuan pendidikan pondok pesantren dan guru-guru Pendidikan Agama Islam.

Sebagai kesatuan paham dan gerakan, radikalisme agama tak mungkin dihadapi dengan tindakan dan kebijakan yang parsial. Maka akar pertumbuhan dan persemaian ide-ide radikal itu harus dibasmi sejak awal, dan itu hanya mungkin dimulai dari ranah pendidikan agama, sehingga nantinya model pengajaran dan pendidikan kita sekaligus menjadi antibodi untuk meningkatkan kekebalan dari infiltrasi pemahaman-pemahaman Islam yang cenderung destruktif. Kegiatan ini kami batasi hanya untuk 100 peserta, yang dapat mewakili elemen-elemen seperti tokoh masyarakat (Ormas), tokoh pemuda (OKP, Karang Taruna dan Remaja Masjid), kelompok LSM, pelajar dan guru-guru Agama.

17 November 2011

Muhammad Ardiansyah

Sekretaris PC GP Ansor Kota Bima

(Pelaksana Kegiatan)

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: