//
you're reading...
Tokoh

SUBCHAN Z. E

Pak Munasir,Pak Yusuf Hasyim, Mas Hamid Baidlowi dan saya menggunakan mobil VW Combimeluncur meninggalkan kediaman Ibu Wahid Hasyim di Taman Matraman 8, JakartaPusat. Muslich Hasbullah (almarhum) yang mengemudikan. Dua orang mahasiswa ikutserta, Umar Wahid dan Rozy Munir. Waktu itu sekitar pukul 20.00 tanggal 5Oktober l965. Mobil menuju ke rumah di jalan Banyumas no. 4, menjemput MasSubchan Z.E. Dengan tambahan penumpang Mas Subchan perjalanan kami lanjutkanmenyusuri jalan Diponegoro, jalan Thamrin dan jalan Merdeka Barat. Sepanjangperjalanan sunyi senyap, karena jam malam berlaku mulai pukul 18.00. Tujuankami gedung RRI yang sempat diduduki oleh pemberontak tapi segera berhasildirebut kembali.
Penumpangdan mobil kami sempat dihadang perajurit TNI di depan gedung RRI. Setelah kamijelaskan siapa kami dan maksud kedatangan ke RRI, di pintu gedung setasiunradio terbesar itu kami diterima oleh Kolonel Sugandhi dan Kapten Yusuf Sirath.Dua perwira dari Puspen AD yang bertugas menguasai RRI.Kemarennya, tanggal 4Oktober l965, Mas Subchan, wakil ketua IV PB Partai NU, memimpin rapat umumbertempat di Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Rapat umum menuntut agardiambil tindakan tegas terhadap para penggerak dan pelaku G-30-S/PKI.
Rapat umumdiselenggarakan oleh Kesatuan Aksi Pengganyangan (KAP) G-30-S/PKI yang didirikanoleh Mas Subchan bersama Harry Tjan Silalahi (dari Katolik) dan Lukman Harun(dari Muhammadiah). Rapat umum itu sepertinya sebagai komando dilaksanakannyaaksi-aksi massa pengganyangan G-30-S/PKI, di mana-mana . Mahasiswa bergerak dibawah bendera KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).Berbagai kesatuan aksiberdiri. KAPPI (pemuda-pelajar), KAPI (pelajar), KASI (sarjana), KABI (buruh),KAWI (wanita) dan sebagainya. Mas Subchan, Lukman Harun dan Harry Tjan Silalahidan kawan-kawan mendirikan Front Pancasila sebagai wadah komunikasi orpol,ormas yang anti PKI dan semua kesatuan kesatuan aksi.
Tampilmewakili PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), ormas mahasiswanya NU, M.Zamroni. Ketika itu ia mahasiswa IAIN yang kemudian duduk dalam Presidium KAMI.Di dalam KAMI berhimpun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Persatuan MahasiswaKatolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia(GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan sebagainya.
Apa yangterungkap di atas adalah bagian dari episode NU menghadapi hari-hari pertamaperistiwa G-30-S/PKI. Lima hari sebelum kami datang ke gedung RRI tersebut,tepatnya tanggal 30 September l965, diselenggarakan rapat Pucuk PimpinanGerakan Pemuda Ansor. Tempatnya meminjam ruangan di lantai atas gedung (lama)PBNU. Gedung itu lokasinya hampir berhadapan dengan gedung CC PKI yangbertingkat banyak. Acaranya membicarakan masalah-masalah aktual, menelaahperkembangan situasi terakhir.Salah seorang peserta rapat, Barmawi Alwi(almarhum) melempar pertanyaan apakah diantara anggota pucuk pimpinan Ansor adayang mendengar seputar kabar tentang adanya Dewan Jenderal. Tidak ada responsyang definitif, sehingga isu tersebut tidak berlanjut menjadi bahan pembicaraandalam acara “dan lain-lain” rapat itu.
Selesairapat di Kramat Raya 164 itu, saya pulang menyusuri jalan Kramat Raya,perempatan Senin menuju ke daerah Tanah Tinggi. Rumah sewaan saya sekeluarga didaerah Galur, Tanah Tinggi, tidak terlalu jauh dari tempat kediaman SekretarisJenderal CC PKI DN Aidit. Jalanan lengang, karena jarum jam menunjukkan angka01.40.
Pagiharinya, sekitar pukul 07.00, agak bingung saya memahami siaran berita RRI.Saya tunggu berita ulangan pukul 08.00. Kesimpulan saya ada kudeta, adaperebutan kekuasaan. Siaran radio tersebut menyebutkan adanya gerakan di dalamtubuh Angkatan Darat, yang bertujuan melawan Dewan Jendral dan melindungipresiden Soekarno. Gerakan tersebut dikepalai Kolonel Untung, komandanCakrabirawa, resimen pengamanan kepala negara. Berita RRI berlanjut denganpembacaan pengumuman tentang terbentuknya Dewan Revolusi yang dikepalai olehKolonel Untung. Ada bagian pengumuman yang menyatakan beberapa jenderal dantokoh politik diamankan.Saya bergegas keluar rumah.
Dengan mobilMazda “kotak” bekas pakai panitia Ganefo (Games of The New EmergingForces) yang dikreditkan kepada anggota DPR-GR, saya menyusuri jalanan Jakarta.Berkibar di mana-mana bendera RRC, disamping merah putih. Hari itu, 1 Oktober,peringatan hari revolusi Republik Rakyat Cina. Tujuan saya mengecek kebenaranadanya tokoh-tokoh yang diamankan untuk memperoleh gambaran apa sebenarnya yangsedang terjadi dan siapa berhadapan dengan siapa.Pertama yang saya tujukediaman ketua umum PBNU, KH Idham Chalid, di jalan Mangunsarkoro. Ternyatatidak terlihat ada sesuatu yang istimewa, sepi-sepi saja. Perjalanan sayaarahkan ke jalan Latuharhary, menuju rumah Jenderal Ahmad Yani. Jalanannyaditutup dan dijaga beberapa orang prajurit Angkatan Darat. Beralih saya menujuke jalan Tengku Umar, tempat kediaman Jenderal AH Nasution. Sama, jalananditutup. Saya mengarah ke lapangan Monas. Di tempat terbuka yang luas itu,begitu banyak tentara berkelompok-kelompok dengan mengenakan tanda pita dibahunya. Sampai saat itu belum jelas bagi saya, siapa dan di pihak mana mereka.
Sejumlahpimpinan Ansor, antara lain Yusuf Hasyim, M. Munasir, Chalid Mawardi, MahbubDjunaidi, berkumpul di Jalan Cut Mutiah No. 1, Jakarta Pusat. Tempat YusufHasyim dan Munasir menginap jika sedang di Jakarta. Diskusi kami lakukanmencoba menganalisis perkembangan keadaan. Kemudian kami sepakat menyebar danberjanji jumpa lagi malam hari. Malam itu, benar kami berkumpul kembali .Tempatnya di kediaman ketua pengurus wilayah Ansor DKI Jakarta, di daerahKlender. Lokasinya agak sedikit di luar pusat kota. Dari hasil “operasiintelejen” yang kami lakukan, semakin jelas siapa yang sedang bertingkahberhadapan dengan kekuasaan yang syah.
Konfirmasikami peroleh bahwa pencantuman nama-nama tokoh yang punya kaitan dengan NU,termasuk nama ketua PP Muslimat NU Ibu Mahmudah Mawardi, tanpa sepengetahuanyang bersangkutan.Pagi tanggal 2 Oktober kami masuk kota lagi, langsung ketempat kediaman Ibu Wahid Hasyim. Koran pagi, kecuali beberapa yang tidakterbit seperti Duta Masyarakat, memperjelas peta keberpihakan. Koran-koran kiriseperti Harian Rakyat dan Bintang Timur, tampak jelas dari politik pemberitaandan editorialnya berpihak pada gerakan 30 September itu.Terbunuhnya beberapaorang jenderal sudah tersiar luas. Kediaman Ibu Wahid kemudian disediakan untukkami jadikan “posko” sekaligus tempat “pengungsian”.
Ketika ituada rasa aman bertetangga jenderal. Ibu Wahid bertetangga dengan JenderalAlamsyah (almarhum) yang di depan kediamannya diparkir mobil lapis baja danpenjagaan 24 jam oleh perajurit TNI.Di “pos komando” di Taman AmirHamzah itu tersusun pernyataan PBNU. Setelah memperoleh persetujuaneksponen-eksponen PBNU yang berwenang, yang membubuhkan tandatangannya di ataspernyataan tersebut, kami sepakat untuk mengumumkannya lewat RRI. Untuk merealisasikannyakami jemput Mas Subchan ZE, wakil ketua IV PBNU, yang sehari sebelumnyamemimpin rapat umum menggerakkan massa menentang gerakan 30 September. Kamiajak beliau ke gedung RRI untuk mengumumkannya. Tadinya kami ingin mas Subchanlangsung membacakan pernyataan itu. Tapi oleh beberapa pertimbangan dari pihakRRI, petugas RRI yang membacakan full teks.Untuk mengusir rasa sunyi yangmencekam dalam perjalanan pulang dari gedung RRI, kami sempat riuh bercanda.Kami antar kembali Mas Subchan ke tempat kediamannya.
Sesampai diposko, kediaman Ibu Wahid Hasyim, kami masih sempat mendengarkan pembacaanpernyataan PBNU melalui RRI siaran pukul 21.00. Isi pernyataan NU menegaskankeyakinannya, bahwa otak dan penggerak G-30-S adalah PKI. Sebab itu NU memohonkepada Presiden Soekarno agar membubarkan Partai Komunis Indonesia.***
Mas Subchandi mata saya adalah colorful young leader. Ia seorang tokoh muda aneka citra.Bukan saja penuh semangat, tapi sekaligus mengandung daya tarik, radaeksentrik, penuh warna dan mengasyikkan.Saya tidak banyak tahu ‘habitat’aslinya sebelum aktif langsung pada pucuk pimpinan Partai NU. Tapi yang jelas,Mas Subchan dengan lingkungan pergaulannya yang luas, kiprahnya di duniaekonomi “modern”, kedekatannya dengan orang-orang muda terdidik yangberasal dari berbagai kelompok, merupakan ciri-ciri yang membedakan denganumumnya tokoh NU.
NahdlatulUlama, walaupun telah menjadi partai politik (sejak l952), nilai-nilaitradisional dan keagamaannya tetap dipelihara. Berada di lingkungan seperti ituMas Subchan tetap saja dengan gaya hidupnya sendiri. Dia pernah dischors darikeanggotaan partai NU gara-gara gaya hidupnya. Walaupun saya ketahui latarbelakang utamanya persaingan politik, baik internal maupun berhadapan denganlawan politik di luar, tapi keputusan resmi PB Syuriah NU tanggal 20 Agustusl966 yang menskorsnya selama 3 bulan, alasan formalnya karena ia dianggap sukaberdansa-dansi dengan perempuan bukan mahromnya. Pernah juga schorsing jatuhdisertai dengan adanya pembuktian sebuah foto dia sedang berdansa.Terasa adapertentangan batin di kalangan para kiai dan sebagian cabang NU setelahkeputusan schorsing terhadap Mas Subchan dijatuhkan. Ada sejumlah surat masukkepada PBNU yang mendesak agar keputusan tersebut ditinjau kembali.
Pertentanganbatin dan keberatan-keberatan itu bersumber dari dua sisi yang berhadapan. Satusisi menyadari kebutuhan NU akan kader intelektual yang potensial sekaliguspunya sikap-sikap politiknya yang “maju” dan berwawasan jauh kedepan, di sisi lain sebagian orang sulit menerima begitu saja gaya hidup MasSubchan. Sebab itu, kendati sempat dischors, posisinya di dalam partai tidakbegitu saja berantakan.
Pendukungnyamasih banyak juga, termasuk diantaranya dari sebagian kalangan kiai berpengaruhbesar.Tahun l967, dalam Muktamar Partai NU di Bandung, Mas Subchan mencobatampil dalam persaingan merebut jabatan ketua umum Pengurus Besar Partai NU. KHIdham Chalid ternyata tak tergoyahkan. Dari 336 suara di muktamar, 306dikantongi Pak Idham. Hanya 19 diperoleh KH Dahlan. Mas Subchan memperoleh 9suara dan calon lainnya, Pak Sjaichu memperoleh 2 suara.Mas Subchan menjadianggota MPRS dan menduduki jabatan sebagai salah seorang wakil ketua.
Dalam kiprahpolitiknya, terkesan dia punya pandangan tersendiri yang oleh sebagian kalanganNU dianggap sebagai “garis keras”, radikal. Khususnya dalamberhadapan dengan sikap-sikap yang dibawakan wakil fraksi ABRI. Sidang MPRStahun l968 yang menetapkan Pj. Presiden Soeharto menjadi Presiden RI, walaupunsudah diperpanjang 3 hari tapi tetap saja tidak berhasil mencapai kesepakatanatas rumusan GBHN. Sebagai alternatifnya, MPRS mengeluarkan ketetapan yangberisi garis besar tugas Kabinet PembangunanPosisi Mas Subchan semakin kuat dilingkungan partai NU.
MemasukiMuktamar Partai NU ke 25 di Surabaya tahun l971, kembali dia berhadapan denganPak Idham yang juga semakin bagus posisinya. Pak Idham lebih dekat dengankekuasaan Ia telah “terpilih” sebagai ketua DPR/MPR. Untuk keduakalinya dalam persaingan, Mas Subchan tidak berhasil merebut jabatan ketuaumum. Bukan hanya dalam hitungan suara, tapi juga berhadapan dengan semacam”hak veto” dari pimpinan Majelis Syuriah.Tindakan Mas Subchan yangsaya rasakan “luar biasa” adalah ketika PBNU menegur PP PMII. Sayatidak ingat persis tahunnya, tapi peristiwanya adalah dies natalis PMII yangdiselenggarakan cabang Bandung. Mahbub Djunaidi dan saya hadir pada acara itumewakili pimpinan pusat. Acara dies natalis tersebut dimeriahkan dengan bandyang mengiringi lagu-lagu para penyanyi dan menyajikan lagu-laguinstrumentalia.
Agaknya adayang kurang senang di lingkungan NU dengan penyelenggaraan peringatan ulangtahun seperti itu. Tidak lama setelah peristiwa itu, PP PMII menerima suratteguran dari PBNU sekali gus peringatan agar jangan lagi menyelenggarakanperayaan disertai dengan iringan musik band seperti di Bandung itu. Dan ketuaPBNU yang menandatangani surat teguran dan peringatan itu Mas Subchan. Kamimenerima surat itu serasa diajak bercanda oleh PBNU.Sayang, perjalanan’colorful young leader’ ini segera terhenti oleh takdir.
Terenyuhhati mendengar kabar Mas Subchan mengalami kecelakaan mobil ketika melakukanperjalanan haji. Beberapa hari dirawat di rumah sakit, kemudian meninggaldunia. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Ma’la, Makkatul Mukarromah. Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Khusnul khotimah, insyaallah.
Oleh M. SaidBudairy*
———————————————————*Tulisan ini dibuat dalam rangka penerbitan buku biografi Subchan Z.E. Ditulispleh M. Said Budairy, lahir di Singosari, Malang, 12 Maret l936. Dia adalahmantan aktifis organisasi IPNU, PMII, Gerakan Pemuda Ansor, KNPI, NahdlatulUlama, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Mantan wartawan Duta Masyarakat(lama), Pedoman, Pelita dan penulis tetap Republika. Mantan anggota DPR-GR/MPRSdan MPR-RI. Sekarang, anggota Dewan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI),anggota Lembaga Sensor Film (LSF), Ombudsman majalah kajian media danjurnalisme PANTAU dan anggota Badan Pendiri Yayasan Forum Indonesia Satu (FIS)

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: