//
you're reading...
Pendidikan

TUJUH NILAI KARAKTER UTAMA KELUARGA IBRAHIM ‘ALAIHISSALAM (KHUTBAH SINGKAT)

AllahuAkbar  (3X), Allaahu Akbar  wa Lillaahi al-Hamdu, jama’ah Sidang Iedul Adharahimakumullah..!

Dipagi hari yang sejuk dan berbahagia ini, atas kesaksian oleh Allah, para malaikatdan alam semesta ini, lebih dari dua milyar penduduk bumi meramaikanmasjid-masjid dan tanah lapang di berbagai belahan dunia, satu dalam satu jiwamelintasi dimensi-dimensi perbedaan, menyanjung Kebesaran ilahi Rabbi, syahduterdengar seiring fajar 10 Dzulhijjah menguak lembaran hari-hari kita. Ditempat yang sama, jutaan manusia dari berbagai ras dan kebudayaan jugaberkumpul, menata barisan dalam satu konsolidasi ibadah haji. Pagi ini, bumimenjadi riuh rendah oleh Takbir, Tahmid dan Tahlil, ada orkestra suci yangterlantun dari mulut-mulut pasrah hamba Allah. Rindukan Tuhan, banggakanakidah, padukan ukhuwwah. Kami datangdan bersatu untuk-MU ya Rabbi, menyadari betapa lemah dan hina kami sebagaikhalifah-MU di tanah jagad ini. Rasa syukur tiada terhingga atas kekuatan,kesehatan dan kesempatan sehingga kami dapat berada di tempat ini, menunaikansebahagian dari sunnah Nabi-MU yang mulia, untuk menunaikan Sholat Idul Adha.
Beribu-ributahun yang lalu, tersebutlah kisah tentang sebuah keluarga mulia yangdiabadikan dalam hikayat bangsa-bangsa. Ada kisah tentang seorang Tokoh Besaryang menjalani hari-harinya seorang diri untuk menggalang perlawanan terhadapkedzholiman seorang Raja Namrud yang dzholim, riwayat perjuangannya sebagaiseorang Ayah yang sukses memandu keluarganya untuk keluar dari himpitan hidup,catatan cemerlang tentang seorang ayah yang kemudian berhasil meletakkanfondasi ketauhidan bagi peradaban manusia di muka bumi. Dialah KhalilullahIbrahim ‘Alaihi Salam, satu dari lima Rasul ulul Azmi, yang dinobatkan sebagaiAbul Anbiya’, Bapak segala Nabi, The Great Father Of Monotheism.

Dedikasidan komitmen Ibrahim ‘alaihissalam sudah tidak perlu disangsikan lagi.Konsistensi keimanannya sudah mulai nampak di usia muda belia. Al Qur’anmengabadikan dialog konfrontasi Ibrahim bukan hanya dengan Raja Namrud, tetapidia bahkan berada di lintasan yang berseberangan dengan Ayahnya sendiri dalamhal keyakinannya tentang Tuhan. Perilaku pemujaan berhala adalah sesuatu yangditolak oleh nalar dan naluri Ibrahim muda, di sisi lain Ayahnya Azar tidaklain adalah petugas Raja yang diberi kewenangan untuk membuat, memahat danmengukir patung-patung sesembahan. Di sini, Ibrahim menunjukkan prinsipnya yangtidak bisa ditawar-tawar. Ibrahim tidak melawan ayahnya, tapi dia berinisiatifmeruntuhkan patung-patung berhala. Tindakan Ibrahim ini diuraikan dengandiplomatis dalam enam ayat berturut-turut di surah Al Anbiya’:

57. Demi Allah,Sesungguhnya Aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudahkamu pergi meninggalkannya. 58. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancurberpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain;agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. 59. Mereka berkata:”Siapakah yang melakukan perbuatan Ini terhadap tuhan-tuhan kami,Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” 60. Mereka berkata:”Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yangbernama Ibrahim “. 61. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah diadengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. 62.Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan Ini terhadaptuhan-tuhan kami, Hai Ibrahim?” 63. Ibrahim menjawab:.(Al-Anbiya’: 57-63)

DiplomasiIbrahim ini sungguh jenius ! Dia mengajak setiap orang di sekitarnya untukmenggugat pikiran mereka masing-masing, coba simak kalimatnya, “Sebenarnyapatung yang besar Itulah yang melakukannya, Maka tanyakanlah kepada berhalaitu, jika mereka dapat berbicara”.

Keimananadalah prinsip,

Keimananadalah dedikasi,

Keimananadalah komitmen suci,

Keimananadalah kekuatan,

Keimananadalah pengetahuan,
Keimananadalah energi yang Allah titipkan,

Keimananadalah pangkal dari pengetahuan dan kebijaksaan yang langsung bersumber dariLangit. Keimananitu ada di dasar hati, di lapisan terdalam yang tidak akan mungkin terjamaholeh akal biasa. Keimanan adalah gelombang dahsyat yang dapat menangkappesan-pesan kebaikan, dia tumbuh seiring usia, berkembang seiring pemahamankita. Allah jua yang kemudian mendorongnya menjadi tenaga kesadaran, Allah jua yangkemudian menjaganya dari provokasi dan hasutan setan. Iman yang kokoh akan mampumenderaikan air mata ketika ilham kebenaran menyentuh selaput hatinya, imanyang kuat akan membuat sekujur tubuh menjadi gemetar dan merinding pasrah ketikaayat-ayat suci dilantunkan dengan indah dan sarat makna, Iman yang tegar akanselalu melahirkan senyuman walau kita dihadapkan pada seribu tekanan dan sejutacobaan. Bukankah kita tahu, bahwa Permata tidak lain adalah batu bara yangmenjadi indah karena tekanan?

Daniman itulah yang bersemayam dalam diri Ibrahim ‘alaihissalam. Dengan imannya,dia mempelopori revolusi penghancuran berhala-berhala Namrud, bahkan akhirnyaia harus diputuskan bersalah dan dibakar hidup-hidup di hadapan banyak orang.
 

68. Mereka berkata:”Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendakbertindak”. 69. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadikeselamatanlah bagi Ibrahim”, (Al-Anbiya’: 68-69)

Dalamkisah-kisah heroik itu, tersebutlah pula seorang wanita nan mulia, seorangperempuan yang lahir dari kalangan biasa, mendampingi suaminya dalam suka danduka. Dialah Siti Hajar, istri yang setia, ibu dari seorang anak yang bernamaIsmail. Kisahketeladanan itu bersemai di tanah Bakka, yang hari ini kita kenal dengan MakkahAl Mukarramah. Yang pada saat ini sedang riuh rendah dalam gegap gempita olehTakbir, Tahlil dan Tahmid dari para Jama’ah Haji. Allah mencatatperistiwa-peristiwa melodramatik Keluarga Nabi Ibrahim dalam dua firmansuci-Nya yang sangat terkenal; Pertama, rekaman dialog antara Ibrahim danIsmail ‘alaihissalam yang cukup mengguncang dasar kalbu, coba ikutiperbincangan mereka dalam tujuh ayat di Surah As Shaffaat :
 

101. Maka kami beri diakhabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.102. Maka tatkala anak itusampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:”Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu.Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku,kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatikutermasuk orang-orang yang sabar”. 103. Tatkala keduanya Telah berserahdiri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabarankeduanya). 104. Dan kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, 105. Sesungguhnyakamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasankepada orang-orang yang berbuat baik. 106. Sesungguhnya Ini benar-benar suatuujian yang nyata. 107. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yangbesar. (Shaaffat: 101-107)

Siapapunpasti akan berurai air mata jika mendalami dialog ini dengan batinnya. Hatisiapa yang tak akan bergetar, melihat seorang anak muda yang begitu pasrah dantaat pada Sang Ayah walau harus disembelih sekalipun karena kepatuhannya padaAllah. Jiwa ayah mana yang tega menyembelih anaknya, tapi coba lihat ! Itubukan karena anaknya nakal atau meresahkan, Ismail adalah anak yang soleh,permata hati bagi sang Ayah, pelipur lara bagi sang bunda, sejak kecil dialahsurga yang mendamaikan jiwa Ibrahim dan Siti Hajar. Tapi Allah telah datang dimimpi Ibrahim ‘alaihissalam, mimpi istimewa ini hanya datang kepada Ibrahim‘alaihissalam, tidak akan mungkin datang kepada orang biasa, karena Allah MahaTahu kadar keimanan dan ketaqwaan hamba-Nya. Bukankah Allah menguji kita dengankadar dan takaran kemampuan kita untuk mengatasinya? Dan Ibrahim tahu, bahwaAllah itu sedang menguji ketulusan dirinya. Malaikat-malaikat kagum, jagad rayaini menunduk, melihat hamba Allah yang begitu patuh tanpa syarat. Dan Allahsesungguhnya memang sedang menguji keluarga ini, terbukti, Ibrahim, Hajar,Ismail, memang bukan manusia tanggung, jagad raya memuji mereka, Allahmenggantinya dengan seekor hewan untuk disembelih. Itulah yang saat ini kitakenang, kita resapi, kita telan butir-butir hikmahnya, dan  sesaat lagi akan ada aktifitas suci bagiseluruh muslim di setiap belahan dunia.

NabiIbrahim ‘alaihissalaam, walaupun sudah tua, sudah berumur, kaya pengalaman, bakpepatah mengatakan sudah banyak makan asam dan garam, akan tetapi tidaksombong, tidak angkuh, tidak otoriter, tidak ingin menang sendiri, tidakmemaksakan kehendak. Beliau masih minta pendapat orang lain, walaupun pendapatitu berasal dari seorang anak. Pendapat anak tersebut dia hargai bahkan dialaksanakan dengan sepenuh hati. Begitu pula Ismai ‘alaihissalam, bukanlah tipeanak yang cengeng, tidak penakut, berani menyampaikan pendapat, dan taat kepadaAllah SWT. Ketika nabi Ibrahim as dan anaknya telah berserah diri dan sabaratas perintah Allah, maka Allah tebus anak itu dengan seekor sembelihan yangbesar. Peristiwa ini kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya hinggagenerasi sekarang dengan prosesi penyembelihan hewan qurban, tanggal 10Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari-hari tasyrik.

Pengakuanresmi dan mutlak dari Allah bahwa keluarga Ibrahim adalah prototipe keluargateladan sepanjang sejarah peradaban manusia, secara tegas Allah nyatakan dalamayat ke enam Surah Al Mumtahanah :

6.Sesungguhnyapada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu)bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) harikemudian. dan barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yangMaha Kaya lagi Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah: 6)

Allahu Akbar 3x waLillahi al-Hamdu, jama’ah Sidang Iedul Adha rahimakumullah..!

Hariini saudara-saudara kita yang dianugerahkan kemampuan, kesempatan dan badansehat oleh Allah SWT, sedang berada di tanah suci, untuk melaksanakan ritualibadah haji. Jumlah mereka tidak sedikit, sekitar tiga sampai empat juta orangdari berbagai suku, bangsa dan beraneka bahasa dan warna kulit berkumpul, dariseluruh perwakilan ras di belahan dunia. Mereka berkumpul menjadi satu di tempatyang sama, dengan seragam ihram yang sama, dengan melafazkan kalimat-kalimatpengagungan Allah yang sama redaksinya. Kalimat Takbir, Tahmid dan Tahlil yangdiajarkan langsung oelh Allah melalui lisan suci Nabi Besar Muhammad SAW.Semuanya tertunduk memusnahkan egoisme dan kekakuan karakter, semuanya takberbeda di hadapan-Nya, semata mengharapkan ridha dan ampunan dari Allaah DzulJalaali wal Ikram. Bagi kita yang belum berkesempatan, jangan pernah berkecilhati, tetaplah berdoa dan merindukan tanah suci, karena meskipun begitu,Rasulullah telah memberi kita juga kesempatan, kemampuan dan kesehatan untukmelaksanakan shalat Idul Adha secara berjamaah, mendengarkan khutbah dandilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban dengan khidmat dan penuhpersaudaraan.

Antarasejarah napak tilas Keluarga Ibrahim ‘alaihissalam, penyembelihan hewan Qurbandan Ibadah Haji adalah tiga sisi yang serupa walau tak sama. Ketiga-tiganyasaling terikat satu sama lain. Karena itu pulalah Allah melalui Rasul-Nyamenuntun kita untuk memuliakan sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah Bahkansebelum pelaksanaan shalat Idul Adha, sehari sebelumnya, ketika saudara-saudarakita sedang berkumpul di Arafah melakukan wukuf untuk mendekatkan diri kepadaAllah dengan berzikir, berdoa, bertaubat dan ibadah lainnya yang diajarkan olehRasulullah saw. Maka sebagai ikatan iman dan ikatan ibadah antara kaum musliminyang tidak menunaikan ibadah haji dengan mereka yang sedang wukuf di Arafah,Rasulullah saw memberikan motifasi kepada umatnya untuk berpuasa Arafah.

“Puasahari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dantahun yang akan datang.”(HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi)

Subhaanallah,tidak ada alat apapun yang mampu diciptakan manusia untuk mendeteksi dan menghitungjumlah dosa, tetapi Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, selalu saja adaamalan ringan dan sederhana untuk menghapus dosa-dosa, dan itu tidaktanggung-tanggung, sebuah amalan sehari yang dapat memusnahkan dosabertahun-tahun. Patutlah kita malu pada diri sendiri, betapa peluang untukmenjadi orang baik senantiasa terbuka, bahkan Allah seringkali menjanjikanbonus-bonus yang tidak terhingga. Syukuri, syukuri, syukuri hidup ini….

AllahuAkbar 3X  Walillaahilhamd. Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.

Nilai apayang sesungguhnya menjadi point penting dari uraian sejarah perjuanganIbrahim ‘alaihissalam ?

Jawabannyaterangkum dalam sebuah surat pendek yang saban hari kita baca dalam sholat,bahkan anak-anak kita yang masih belia mungkin sudah menghafalnya di luarkepala. Mungkin karena ayat ini terlalu singkat dan mudah dilafalkan. Padahal,dari tiga ayat yang kita baca di dalamnya, mungkin terurai tiga juta hikmahyang tak sanggup dituntaskan oleh berton-ton tinta pena. 

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamunikmat yang banyak. (1), Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; danberkorbanlah. (2), Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yangterputus (3).”(QS. Al-Kautsar [108] : 1-3)

Didalam surat Al-Kautsar, tepatnya di ayat pertama, Allah telah menegaskan, bahwaDia telah memberikan nikmat yang banyak! Kenapa Allah menegaskan? Supaya kitabertanya pada hati kita masing-masing, mengajak bicara isteri dan anak-anakkita, membahas deretan nikmat yang selama ini tersusun rapi mengikutipertumbuhan usia dan kemapanan hidup kita, termasuk saya selaku Khatib jugawajib bertanya pada diri ini, ketika mendapat penghargaan dan kehormatan beradadi atas mimbar Idul Adha, berbicara di hadapan orang-orang tua saya sendiri,sahabat dan adik-adik saya seiman dan seagama. Seberapa sempat kita meluangkankesempatan dalam sehari ini untuk mengingat-ingat nikmat yang telah Allah limpahkan.Kita sibuk di sawah, sibuk di laut, sibuk di pasar, sibuk di kantor, sibuk dimana-mana dengan segala kesibukan kita. Dengan kemampuan berhitung, kitasanggup memilah jumlah-jumlah barang dagangan, menghitung uang-uang ditabungan, menghitung pengeluaran bulanan. Allah, Tuhan kita Yang Maha Bijaksanaitu setiap saat berbicara, cobalah dengar anak-anak kita di TPA atau di SekolahDasar, mereka begitu polos menghafal ayat itu, di saat itulah sesungguhnyaAllah mengingatkan kita, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmatyang banyak”.

Cobalahhitung nafas yang tak pernah berhenti ini, nafas adalah udara, udara adalahOksigen, coba tanyakan harga Oksigen (O2) di apotik. Harganya sekitar Rp 25.000per liter. Pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di apotik? Jika belum tahu,harganya sekitar Rp. 9.950 per liter. Tahukah kita, bahwa dalam sehari kitamenghirup Oksigen (O2) sebanyak 2.880 liter dan Nitrogen 11.376 liter. Jikaharus dihargai dengan rupiah, maka Oksigen (O2) dan Nitrogen yang kita hirup,akan mencapai Rp 170 jutaan per hari untuk satu orang. Jika kita hitungkebutuhan kita sehari Rp 170 juta, maka sebulan Rp 5,1 milyar untuk satu orang.Setahun kita menghabiskan oksigen 61,2 Milyar kalau dirupiahkan. Usia sayasekarang 31 tahun, 31 dikali 61,2 Milyar. Subhaanallah, walhamdulillaah wa laailaaha illallaah wallaahu Akbar…. Malu hati kami menghitungnya Ya Rabbi…

Pernahkahmalaikat menagih oksigen dan nitrogen yang kita hirup datang ke rumah setiapbulan? Semakmur atau semiskin apapun kita, tidak akan sanggup melunasi biayanafas hidup jika Allah Yang Maha Kuasa mau pakai rumus dagang dengan manusia!

Karenaitu pula Allah mengingatkan kita sampai 31 kali dengan kalimat yang sama,dengan jumlah huruf yang sama agar manusia mudah mengingatnya dan pandaibersyukur. Kita masih ingat sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, setiapsebelum adzan subuh selalu terdengar lantunan ayat suci yang digaungkan hampirsemua masjid di Kota maupun Kabupaten Bima, dilantunkan oleh Qori’Internasional Almarhum H. Abubakar Husen dengan qiraah sab’ahnya yang terkenal:

“Makanikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman[55] )

AllahuAkbar 3X Walillahilhamd.

Sekarang,bagaimana cara bersyukur kepada Allah? Caranya adalah memanfaatkan segalanikmat yang telah Allah berikan untuk mendekat diri kepada-Nya, denganmelaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diperintah-Nya. Didalam surat Al-Kautsar ayat kedua ditegaskan: Maka dirikanlah shalat karenaTuhanmu; dan berkorbanlah.

Adadua cara untuk bersyukur kepada Allah berdasarkan ayat yang tertera di atas:

Pertama,Mendirikan Shalat karena Allah

Shalatadalah ibadah yang sudah ada contohnya dari Rasulullah saw, ketika seorangmelaksanakan shalat, sesungguhnya dia telah merealisasikan syukur kepada Allah,di dalam shalat seorang hamba dalam keadaan suci, menghadap kiblat, telahmembesarkan Allah, memuji Allah, berterima kasih kepada Allah, rukuk, sujud danberdoa kepada Allah.

Manusiayang shalat sesungguhnya telah mengingat Allah, dan mengingat Allah merupakanlangkah awal untuk bersyukur kepada-Nya.

 “Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak adaTuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untukmengingat aku.”(QS. Thaahaa [20] : 14)

Diriwayatkandari Aisyah Radhiyallahu’anha,ia mengatakan, “AdalahRasulullah saw apabila mengerjakan shalat maka beliau berdiri sampai pecahkedua kakinya. Aisyah Radhiyallahu’anha berkata, ‘Wahai Rasulullah saw, mengapaengkau melakukan seperti ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akandatang telah diampuni?’ Nabi saw menjawab, ‘Wahai Aisyah, apakah aku tidakboleh menjadi hamba yang bersyukur?’.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Darihadits di atas, kita banyak mendapat pelajaran, satu di antaranya adalah bahwashalat adalah ritual ibadah yang merupakan tanda seorang yang bersyukur kepadaYang Maha Kuasa, Allah SWT.

Lantasbagaimana dengan orang yang lalai dalam sholatnya bahkan tidak pernahmengerjakan shalat sama sekali?

Kedua,Berqurban

IbadahQurban adalah ritual yang sudah berlangsung lama, ritual yang ada sejak ribuantahun lalu. Sebelum kita dilahirkan, sebelum orang tua kita dilahirkan, bahkansebelum kakek dan nenek kita dilahirkan, jauh sebelum Islam datang ke Bima, ditanah-tanah Arab sudah dilangsungkan ritual suci warisan Ibrahim ini. Bahkansudah dicontohkan sejak peradaban manusia ini dimulai oleh putera-putera Adam‘alaihissalam.

“Ceritakanlahkepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yangsebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salahseorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allahhanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (QS. Al-Maidah[5] : 27)

Dariayat di atas, kita mendapat penjelasan bahwa Nabi Ibrahim as yang sudah tua dansudah lama berumah tangga, sangat menginginkan seorang anak yang shaleh, beliaukemudian berdoa kepada Allah, dan Allah kabulkan.

Dansebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah memberikan seorang anak, makanabi Ibrahim as ingin menyembelih anaknya, pada saat akan menyembelih, makaterjadilah dialog bapak dan anak dan peristiwa tersebut Allah abadikan di dalamfirman-Nya untuk pelajaran bagi generasi sesudahnya.

NabiMuhammad saw juga melakukan penyembelihan hewan qurban sebagai wujud syukur danmendekatkan diri kepada Allah SWT, bahkan dalam pelaksanaan haji Wada’,Rasulullah saw dengan tangannya yang mulia menyembelih sebanyak 63 ekor binatangsembelihan, beliau kemudian menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhuuntuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan.

DariAisyah Radhiyallahu’anha,Nabi saw bersabda, “Tidakada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari RayaIdul Adha selain menyembelih qurban…” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majahdan Hakim)

AnasRadhiyallahu’anhubekata, Rasulullah saw bersabda, “Padasetiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebajikan.” (HR.Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya)

Seandainyakita dapat memahami bahasa-bahasa hewan, barangkali saat ini mereka sudahmenunggu kalimat-kalimat suci dari kita untuk menyembelihnya. Beruntunglahmereka yang berqurban, apalagi qurbannya diserahkan kepada mereka yang sangatmembutuhkan, seperti mereka yang fakir, miskin, terjajah, orang-orang lemah,orang-orang yang sering diremehkan.


AllahuAkbar 3X Walillahilhamd.
Dalamkonteks kebimaan kita hari ini, perayaan Idul Adha memang  tidaklah seramai penyambutan Idul Fitri, gaungnyaterdengar biasa saja, kalah pamor dibanding perayaan tahun baru, atau kadangkurang diminati oleh sahabat-sahabat remaja yang lebih membesar-besarkan harivalentine. Padahal di balik perayaan Idul Adha, kita memperoleh banyak hikmah;tentang kesetiaan seorang anak remaja bernama Ismail, yang begitu tunduk padamimpi sang Ayah yang dimintai Tuhan untuk menyembelih dirinya. Ada ceritasyahdu tentang seorang Ibu yang bertahan hidup di padang gurun bersama bayikecilnya. Ada kisah heroik ketika Ibrahim sebagai seorang ayah harus menjadipenjelajah padang pasir hanya untuk mencari makanan dan minuman untuk sangbayi. Ada akhir yang indah dari perjalanansebuah keluarga yang paling muliaini, Ibrahim yang berasal dari keluarga Imran, yang diakui legalitasnya oleh AlQur’an sebagai gen terbaik di muka Bumi. Takada cuti berhari-hari, gaungnya di televisi pun sepi. Sekolah Cuma dapat jatahlibur sehari atau dua hari, padahal tenggat waktu berqurban adalah sampaitanggal 13 Dzulhijjah atau selama hari tasyrik. Mungkin bagi sebahagian kitaperayaan ini terasa kurang istimewa. Kalaupun ada yang merasa berbedasuasananya, itu mungkin sekelompok orang yang sedang ditinggal salah satuanggota keluarganya untuk menunaikan ibadah Haji. Rasa-rasanya kita mulaikehilangan “kepentingan” dengan Idul Adha, yang kadang kita sebut dengan HariRaya Qurban atau Lebaran Haji. Bagi orang Bima, ini suasana yang terasa  to’idan standar-standar saja, padahal orang-orang tua kita dahulunya menyebut IdulAdha dengan Aru Raja Na’e. Dan, Aru Raja Na’e; di dalamnya terselip rapiwasiat-wasiat luhur para Ulama Bima tempo dulu, ada pesan dan kata yang masihsayup terdengar dari tutur tegas para Raja. Saatnyalah bagi kita orang Bima,menghidupkan kembali konsensus para Sultan tentang fadhilah Rawi ma Tolu kali Samba’a, murnikankembali Idul Fitri sebagai momentum berbagi, agungkan kembali Idul Adha sebagaiwahana pembangunan karakter pengorbanan dan kesetiaan, dan terakhir mengemas kembali perayaan Maulid Nabi dalam format U’a Pua transformatif, libatkan semua,dan semua harus terlibat, muliakan hari kelahiran Kekasih Allah Muhammad SAWdalam sebuah perayaan mengenang hari jadi Kesultanan Bima.

AllahuAkbar 3X Walillahilhamd.Jamaah Sholat Idul Adharahimakumullaah… 
Dariuraian khutbah ini, setidaknya kami menyimpulkan terdapat tujuh nilai karakterutama yang dapat kita jadikan sebagai suri tauladan dari keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: 
  1. Pasrahdan Tawakkal Kepada Allah; seperti kepasrahan Ibrahim ‘alaihissalam menerimakehadiran Allah sebagai Dzat Yang Menguasai dirinya. Tawakkal walau harusmelintasi skian banyak resiko dan tantangan hidup. 
  2. BertanggungJawab; seperti kesabaran Ibrahim mengawal isteri dan anaknya dengan penuhtanggung jawab baik dunia maupun dalam hal mendoktrin Aqidah dan nilai-nilaiKetuhanan. 
  3. JadilahIsteri yang setia; menjadi Ibu sandaran hati bagi suami seperti Hajar yangselalu sabar menerima curahan hati Ibrahim ‘alaihissalam. Setia menemani suami,tanpa mengeluh dan mempersoalkan bagaimana cara suami mencari hidup. 
  4. JadilahIbu yang lembut; yang tak pernah menunjukkan cara yang kasar dalam mendidikanaknya, seperti Hajar yang begitu tulus mengasuh Ismail, menjaganya denganpenuh kasih sayang ketika ditinggal Ibrahim di antara bukit Shafa dan Marwah. 
  5. Jadilahanak yang sholeh; yang tidak hanya pandai membangkang dan melawan orang tua,apalagi orang tuanya sudah lemah, ingatlah Ismail ‘alaihissalam, remaja yangpolos dan lugu, namun begitu taat kepada Allah dan tak pernah memberontak padatitah orang tuanya.
  6. Bangunlahkomunikasi yang seimbang dan penuh kasih sayang dalam keluarga; sepertikebersamaan Ibrahim, Hajar dan Ismail dalam menyikapi kesulitan-kesulitan hidupyang dihadapi. Tak banyak hal yang selesai hanya dengan amarah, cobalahbicarakan dengan seluruh anggota keluarga, seperti Ibrahim yang aspiratis dandemokratis mengajakisteri dan anaknya bertukar pikiran.
  7. Bersyukurlah;karena telaga Kautsar hanya diperuntukkan bagi setiap hamba Allah yang pandaibersyukur. Mensyukuri nikmat Allah dengan meluangkan waktu untuk menegakkanSholat, dan menyisihkan sebahagian dari rizkinya untuk menyembelih hewankurban.

Semogasegala pesan dan segala hikmah dari riwayat juang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,tersurat ataupun tersirat, dapat terpahat dalam sanubari kita sebagaikhalifatullah fil ardhi, menyadarkan kita akan betapa pentingnya nilai-nilaiketeladanan positif yang termaktub dalam Al Qur’anul Karim; minimal untukmembangunkan kesadaran diri sendiri, untuk menata keluarga yang sakinahmawaddah wa rahmah, menjadi warga negara bangsa yang setia, dan berpartisipasidalam membangun tatanan sosial yang lebih beradab. Kiranya momentum konsolidasiIdul Adha pagi ini membekaskan manfaat terdalam, segala kebenaran dari Allah,segala khilaf murni dari kelalaian kami semata.

Baarakallaahu liy wa lakum fil Qur’anilKarim, wa nafa’niy wa iyyaakum bimaa fiyhi minal aayati wa dzikril hakiim,aquulu qauli haadza, wastaghfiruhu innahu Huwal Ghafuururrahim…
Maaf, karena ada kendala pada penulisan, maka Mukaddimah Khutbah I dan Do’a pada Khutbah II tidak bisa saya tampilkan. Aina bune ade mena yaaa….

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: