//
you're reading...
Pendidikan

SEJARAH MAULID

Al-Barzanji adalah suatu do’a-do’a, puji-pujian dan penceritaan riwayat NabiMuhammad saw yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Isi Berzanjibertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad saw yakni silsilah keturunannya, masakanak-kanak, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi rasul. Didalamnya jugamengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad serta berbagaiperistiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya,seorang sufi bernama Syaikh Ja’farbin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al – Barzanji.
Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyur dan terkenaldengan nama Mawlid Al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnyaberjudul ‘Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau ‘Iqd Al-Jawhar fiMawlid An-Nabiyyil Azhar.Barzanji sebenarnya adalah nama sebuah tempat diKurdistan, Barzanj. Nama Al-Barzanji menjadi populer tahun 1920-anketika Syaikh Mahmud Al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadapInggris yang pada waktu itu menguasai Irak. 
Kitab Maulid Al-Barzanji karangan beliau initermasuk salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebarke pelosok negeri Arab dan Islam, baik Timur maupun Barat. Bahkan banyakkalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalamacara-acara keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan Khulasah (ringkasan)Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagairasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya. Syaikh Ja’farAl-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 diMadinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya’ban tahun1177 H di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqambeliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi saw.
Sayyid Ja’far Al-Barzanji adalah seorangulama’ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa’adah Al Barzanji yangtermasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja’far semuanyaulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dankeshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yangbersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran danSunnah, wara’, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuatkebajikan bersedekah,dan pemurah. 
Nama nasabnya adalah Sayid Ja’far ibn Hasan ibnAbdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibnQalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isaibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-ImamMusa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja’far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibnAl-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a.
Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Qurandari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan denganSyaikh Yusuf As-So’idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliaudalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji,Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja’far Al-Barzanjitelah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma’ani,Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits,Tafsir, Hikmah, Handasah, A’rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf,Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah. 
Syaikh Ja’far Al-Barzanji juga seorang Qodhi(hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorangketurunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammadbin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-SaharzuriAl-Barzanji (1040-1103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi’idi Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdidi Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi.Di sana beliau telah belajar dari ulama’-ulama’ terkenal, diantaranya SyaikhAthaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi Al-Ahmadi,Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama’,antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari,Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A’jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh AbdullahAs-Syubrawi Al-Misri.
Syaikh Ja’far Al-Barzanji, selain dipandangsebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar didalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu,akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya.Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo’a untuk hujan pada musim-musimkemarau. 
Historisitas Al-Barzanji tidak dapat dipisahkandengan momentum besar perihal peringatan maulid Nabi Muhammad saw untuk yangpertama kali. Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw pada mulanyadiperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islamsedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa,yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal itu sebagai Perang Salib atau TheCrusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem danmenyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangatperjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islamterpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifahtetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagailambang persatuan spiritual. 
Adalah Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi -dalamliteratur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin, seorang pemimpin yangpandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 Matau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub- katakanlah dia setingkat Gubernur.Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusatkesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannyamembentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Menurut Salahuddin,semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebalkecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruhdunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang setiap tahun berlalu begitu sajatanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.
Sebenarnya hal itu bukan gagasan murniSalahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi yang menjadiAtabeg (setingkat Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknyaperingatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya seringmenyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dantidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjaditradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangatjuang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa. 
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dariKhalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata Khalifah setuju. Maka pada musimibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, Salahuddin sebagai penguasaHaramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepadaseluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segeramenyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580/ 1184 M tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi denganberbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam. 
Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang olehpara ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada.Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitridan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan MaulidNabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yangbersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Salah satu kegiatan yang di prakarsai oleh SultanSalahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H)adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujianbagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawandiundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertamaadalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji.
Ternyata peringatan Maulid Nabi yangdiselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangatumat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasilmenghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut olehSalahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali,sampai hari ini. 
Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untukmeningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan gairah umat.Dalam kitab itu riwayat Nabi saw dilukiskan dengan bahasa yang indah dalambentuk puisi dan prosa (nasr) dan kasidah yang sangat menarik. Secara garisbesar, paparan Al-Barzanji dapat diringkas sebagai berikut: (1) Silsilah Nabiadalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf binQusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad binAdnan. (2) Pada masa kecil banyak kelihatan luar biasa pada dirinya. (3)Berniaga ke Syam (Suraih) ikut pamannya ketika masih berusia 12 tahun. (4)Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun. (5) Diangkat menjadi Rasul padausia 40 tahun, dan mulai menyiarkan agama sejak saat itu hingga umur 62 tahun.Rasulullah meninggal di Madinah setelah dakwahnya dianggap telah sempurna olehAllah SWT.
Dalam Barzanji diceritakan bahwa kelahirankekasih Allah ini ditandai dengan banyak peristiwa ajaib yang terjadi saat itu,sebagai genderang tentang kenabiannya dan pemberitahuan bahwa Nabi Muhammadadalah pilihan Allah. Saat Nabi Muhammad dilahirkan tangannya menyentuh lantaidan kepalanya mendongak ke arah langit, dalam riwayat yang lain dikisahkanMuhammad dilahirkan langsung bersujud, pada saat yang bersamaan itu pula istanaRaja Kisrawiyah retak terguncang hingga empat belas berandanya terjatuh. Maka,Kerajaan Kisra pun porak poranda. Bahkan, dengan lahirnya Nabi Muhammad ke mukabumi mampu memadamkan api sesembahan Kerajaan Persi yang diyakini tak bisadipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun. 
Keagungan akhlaknya tergambarkan dalam setiapprilaku beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, beliau mampumendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka’bah. Ditengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkanHajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri,melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untukmemegang setiap ujung sorban yang ia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempatperwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, danRasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka’bah. 
Kisah lain yang juga bisa dijadikan teladanadalah pada suatu pengajian seorang sahabat datang terlambat, lalu ia tidakmendapati ruang kosong untuk duduk. Bahkan, ia minta kepada sahabat yang lainuntuk menggeser tempat duduknya, namun tak ada satu pun yang mau. Di tengahkebingungannya, Rasulullah saw memanggil sahabat tersebut dan memintanya dudukdi sampingnya.. Tidak hanya itu, Rasul kemudian melipat sorbannya lalumemberikannya pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Melihatkeagungan akhlak Nabi Muhammad, sahabat tersebut dengan berlinangan air matalalu menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, tetapi justrumencium sorban Nabi Muhammad saw tersebut. 
Bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullahbergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan maulid Nabi Muhammadsaw, Ya Nabi salâm ‘alaika, Ya Rasûlsalâm ‘alaika, Ya Habîb salâm ‘alaika, ShalawatulLâh ‘alaika… (Wahai Nabisalam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, ShalawatAllah kepadamu…) 
Kemudian, apa tujuan dari peringatan maulid Nabidan bacaan shalawat serta pujian kepada Rasulullah? Dr. Sa’id Ramadlan Al-Bûthimenulis dalam Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar mengetahui perjalanan Nabi darisisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yangmenggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.”
 
Sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmeldalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi sawdalam Islam (1991), , menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far Al-Barzanji,dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudianmengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi SangNabi. Pancaran kharisma Nabi Muhammad saw terpantul pula dalam sejumlah puisi,yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masake masa. Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagainegeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umatIslam penutur bahasa Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kitapun dapat membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, meski kekuatan puitisyang terkandung dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalambahasa kita sejauh ini. 
Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwakarya Ja’far Al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad saw. Dalamgaris besarnya, karya ini terbagi dua: ‘Natsar’ dan ‘Nadhom’. Bagian Natsarterdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi“ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi Muhammadsaw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa-masa tatkalapaduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nadhom terdiri atas 16 subbagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”. 
Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu,terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi.Dalam bagian Nadhom misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabipujaan ”Engkau mentari, Engkau rebulan dan Engkau cahaya di atas cahaya“. Di antara idiom-idiom yang terdapat dalam karyaini, banyak yang dipungut dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama,cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikianrupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlahbesar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskansebagai “Untaian Mutiara”.
Betapapun, kita dapat melihat teks seperti inisebagai tutur kata yang lahir dari perspektif penyair. Pokok-pokok tuturannyasendiri, terutama menyangkut riwayat Sang Nabi, terasa berpegang erat padaAlquran, hadist, dan sirah nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkankembali rincian kejadian dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya denganimajinasi puitis, sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah. Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengankarya Ja’far Al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhentipada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya inikiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungandengan cara umat Islam diberbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan NabiMuhammad saw.
Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkanoleh Al-’Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad yangterkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H dengan satu syarahyang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan ‘Al-Qawl Al-Munji ‘alaMawlid Al-Barzanji’ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir. 
Di samping itu, telah disyarahkan pula oleh paraulama kenamaan umat ini. Antara yang masyhur mensyarahkannya ialah SyaikhMuhammad bin Ahmad ‘Ilyisy Al-Maaliki Al-’Asy’ari Asy-Syadzili Al-Azhari dengan kitab’Al-Qawl Al-Munji ‘ala Maulid Al-Barzanji’. Beliau ini adalah seorangulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari danmenjalankan Thoriqah Asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H / 1802Mdan wafat pada tahun 1299 H / 1882M. 
Ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, yangterkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya,yaitu Sayyidul Ulamail Hijaz, An-Nawawi Ats-Tsani, Syaikh Muhammad NawawiAl-Bantani Al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi Maulid al-Barzanjidan karangannya itu dinamakannya ‘MadaarijushShu`uud ila Iktisaail Buruud’. Kemudian, Sayyid Ja’far bin Sayyid Isma`ilbin Sayyid Zainal ‘Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yangmerupakan suami kepada satu-satunya anak Sayyid Ja’far al-Barzanji, juga telahmenulis syarah bagi Maulid Al-Barzanj tersebut yang dinamakannya ‘Al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fiMaulidin Nabiyil Azhar’. Sayyid Ja’far ini juga adalah seorang ulama besarkeluaran Al-Azhar Asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah.Karangan-karangan beliau banyak, antaranya: “Syawaahidul Ghufraan ‘alaJaliyal Ahzan fi Fadhaail Ramadhan”, “MashaabiihulGhurar ‘ala Jaliyal Kadar” dan “TaajulIbtihaaj ‘ala Dhauil Wahhaaj fi Israa` wal Mi’raaj”. Beliau juga telahmenulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggiannendanya Sayyid Ja’far Al-Barzanji dalam kitabnya “Ar-Raudhul A’thar fi ManaqibAs-Sayyid Ja’far”. 
Kitab Al-Barzanji dalam bahasa aslinya (Arab)dibacakan dalam berbagai macam lagu; rekby (dibaca perlahan), hejas (dibacalebih keras dari rekby ), ras (lebih tinggi dari nadanya dengan irama yangberaneka ragam), husein (memebacanya dengan tekanan suara yang tenang), nakwanmembaca dengan suara tinggi tapi nadanya sama dengan nada ras, dan masyry,yaitu dilagukan dengan suara yang lembut serta dibarengi dengan perasaan yangdalam. Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanjilazimnya dibacakan dalam kesempatan memeringati hari kelahiran Sang Nabi.Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya memanjatkan shalawat sertasalam untuknya, orang berharap mendapat berkah keselamatan, kesejahteraan, danketenteraman. Sudah lazim pula, tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanjididendangkan – biasanya, dalam bentuk standingovation – dikala menyambut bayi yang baru lahir dan mencukur rambutnya. 
Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengankehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awalkalender hijriyah (Maulud). Acara yang disuguhkan dalam peringatan harikelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-haribulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakda Mulud). Ada yang hanya mengirimkanmasakan-masakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri,ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yangagak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkanada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umatIslam. 
Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabiini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yangbaik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslimyang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antaralain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidakbid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’idhah hasanah padaacara temanten dan mauludan. Dalam ‘Madarirushu’ud Syarhul’ Barzanjidikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentuaku berikan syafa’at kepadanya di hari kiamat.” Sahabat Umar bin Khattabsecara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahirRasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”
Bagi masyarakat Bima, membaca Barzanji dahulunyaadalah sebuah seni yang dianggap bernilai dan berkualitas tinggi. Darisurau-surau atau majelis-majelis pengajian fitua, koor Barzanji seolah menjadisantapan rohani yang begitu melezatkan, tidak sedikit orang-orang tua kita duluyang mengalami ekstase dan histeris larut dalam bacaan bahkan irama “syarakal”shalawat. Bagi mereka yang sedikit memahami bahasa Arab, akan menangis ketikamembaca kisah lahir dan keterasingan Rasulullaah ketika ditinggal mati olehIbunya. Dalam perkembangan sosio-religius masyarakat Bimadulunya, pembacaan Barzanji dilakukan di berbagai kesempatan sebagai sebuah pengharapanuntuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya pada saat kelahiran bayi, Cafi Sari (upacara pemberian nama), Dompo Honggo (mencukur rambut bayi), Keka (aqiqah), Suna Ndoso (khitanan) dan KapancaNika (pernikahan). Ada juga yang hanya membaca Barzanji dengan berbagaikegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasilberbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau’idhah hasanah dari para muballigh atau da’i. Saya termasukmenggandrungi kebiasaan Barzanji ini, dulu pada sekitar tahun 2000 sampai 2004,saya paling gemar membacanya di Masjid dengan beberapa jamaah masjid SultanMuhammad Salahuddin Bima. Aktifitas ini terhenti sejak ada beberapa pihak yangmenuding apa yang kami lakukan itu bid’ah belaka.

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: