//
you're reading...
Pendidikan

NIHILNYA TELADAN MORAL PEJABAT PUBLIK

Oleh: Abdul Muluk, SPdI
  Hampirsetiap minggu selalu saja ada nama baru yang terseret kasus korupsiatau suap. Yang menyedihkan, nama-nama yang muncul adalah abdi Negara,bahkan ada orang-orang yang mempunyai posisi penting, entah di partaipolitik, di lembaga yudikatif, legislatif  maupun di eksekutif. Kitatidak tau setelah nama Nazaruddin (Anggota legislatif dan mantanbendahara umum partai demokrat), Syarifuddin  (hakim pengadilan negeri Jakarta pusat), Imas dianasari (hakim pengadilan hubungan industribandung) nama siapa lagi yang menambah panjang deretan pejabat yangbermasalah.
Bertambah panjangnya deretan nama-nama abdi Negara bermasalah itu menunjukan satu indikasi buruknya negeri ini, yakni  nihilnya teladan moral pejabat publik. Ini sekaligus manjadi  bukti bahwa nilai-nilai moral semakin sirna dikalangan mereka.

Mitos Politik Amoral
Merekayang terjerat kasus jelaslah secara mutlak menghayati politik amoral,meminjam terminologi De George, dalam kekusaan. Artinya, mereka tidaklagi menempatkam nilai-nilai etis sebagai pijakan dalam mengembantugas-tugas kenegaraan. Mereka justru memisahkan etika daripekerjaanya. Dalam benak mereka, yang berlaku adalah “ morality is morality, politikc is politic”.Artinya, moralitas tidak terkait dengan kekuasaan, dan kekuasaan tidakmembutukkan moralitas. Nilai-nilai etis ditempatkan di luar kekuasaan.
Apaakibat dari pengakuan seperti itu? Jelas kecurangan-kecurangan yangdilakukan dalam bentuk korupsi atau memperkaya diri dan kelompoknyatidak dianggap lagi sebuah keganjilan, apalagi menjadi sebuah masalah.Tidak ada rasa malu, apalagi rasa bersalah. Bahwa ada orang lain haknyadirampas, kehidupanya terancam karena korupsi yang dilakukan bukanmenjadi urusan. Yang penting, menggunakan kesempatan sebesar-besarnyauntuk meraup keuntungan diri dan kelompok. Soal hakim dan moral urusanbelakang. Nampaknya pandangan inilah yang dihayati oleh para abdiNegara yang terjeret kasus korupsi.
Ancaman Eksestensi Bangsa
Nihilisme moraldikalangan pejabat publik merupakan sebuah ancaman besar bagieksistensi bangsa ini. Sekurangnya ada tiga alasan untuk mengatakandemikian: Pertama, nihilsme moral membuat makna dan tujuanseluruh pendidikan karakter dikalangan generasi muda semakin hampa,sebagaimana di tegaskan oleh Jhon Dewey dalm demokraci and education(1944: 358), salah satu bagian nilai pendidikan berkarakter adalahmenanamkan nilai-nilai bagi generasi bangsa. Menurut Dewey penanamannilai-nilai moral itu tidak hanya terjadi secara teoritis dalam bentukindoktrinasi ajaran-ajaran atau konsep melainkan lebih melaluipengalaman di luar sekolah. Dengan penegasan ini Dewey mau menyatakanbahwa realitas atau fakta yang di saksikan oleh generasi muda menjadiinstrument penting dalam membentuk pribadinya. Ketika Defaktomereka menyaksikan perilaku yang syarat dengan devisit moral, apalagihal itu dipertunjukan oleh para elit politik, maka disitupun  akansulit terjadi pembentukan karakter.
Bahwagenerasi muda kita sebagai pribadi menpunyai otonomi untuk menentukandirinya, seperti di tegaskan oleh Immanuel Kant, ada benarnya, tetapijangan lupa, bagi mereka dalam tempus formationis (masapembentukan) peran figur sangatlah penting. Teladan moral daritokoh-tokoh publik justru memiliki makna yang esensial bagi mereka.Jadi, dalam pembetukan karakter yang baik, generasi muda membutuhkancontoh yang baik, kehampaan teladan moral bagi generasi muda justrumenjadi ancaman besar bagi eksistensi bangsa ini.
Kedua, terkait dengan alasan yang pertama, melalui Nihilisme teladanmoral secara tidak langsung para elit politik memberi contoh burukbagaiman penyamun di mata generasi bangsa. Secara lain dapat dikatakanelit politik membentuk generasi penyamun. Tujuan ini sangatbertentangan dengan esensi fungsi etis pejabat publik atau parapemimpin. Filsufklasik dari Yunani, Plato, sangat jelas mengisyaratkan bahwa parapejabat publik (baca: pemimpin) mempunyai fungsi dan tugas yangmendasar, yakni fungsi etis, disamping fungsi ekonomis dan legal.Artinya, selain mensejahterakan kehidupan masyarakat serta mengaturnyaagar tertib dan hidup secara teratur, aparat Negara juga mempunyaitugas untuk membentuk masyarakat yang bermutu. Mutu masyarakat itu adadi dalam kualitas perilakunya. Dalam kaitan dengan itu, pengembangankesadaran moral masyarakat menjadi bagian penting dalam menjalankantugas pemimpin. Namunyang menarik  dari penggagasan Plato, sebelum tugas itu dilakukan, parapemimpin haruslah menjadi orang yang pertama menghayati nilai-nilai itudalam kehidupan. Artinya, para pemimpin memberi teladan moral bagiwarga masyarakat bahwa para calon-calon pemimpin bukanlah orangsembarangan. Mereka harus mempunyai kualifikasi etis, yakni integritasmoral yang memadai, bersifat otonom, berjiwa adil serta bijakasana.
Mengingatapa yang ditegaskan oleh plato diatas dengan kondisi bangsa ini, jelaselit politik yang terlibat korupsi mengeleminir fungsi etisnya sebagaipejabat publik, bahkan fungsi ekonomis dan legalnya. Mereka hanyamemperkaya diri sendiri, mereka  justru memberi contoh yang tidak baikkepada mayarakat. Secara tidak langsung pula semakin bertambahpanjangnya deretan nama para pejabat yang bermasalah itu menjadi sebuahpembenaran kepada geberasi muda, kalau nantinya menjadi pejabat harusmelakukan hal yang sama. Dengan kata lain, logika bengkok yangdiajarkan oleh para elit politik bermasalah adalah ” apa yang dilakukanoleh banyak orang, itu harus di anggap sebagai keharusan ”, padahaldari segi moral hal ini justru sangat bermasalah.
Ketiga, Nihilismemoral mengancam karena tindakan demikian akan menyangkal pilar utamadalam hidup berbangsa, yakni kemanusiaan, keadilan sosial dan rasakepedulian bagi masyarakat. Melihat orang-orang seperti ini jelaslahakan mengantar bangsa ini keambang kehancuran. 
Semoga ketiga ancaman diatas hanya angan-angan, kalau tidak, betapa suramnya masa depan bangasa ini.
Penulis Adalah : Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) dan Pengurus Fitua Institute

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: