//
you're reading...
Pendidikan

KABUT HITAM DEMOKRASI

Oleh: Abdul Muluk, SPdI
 

Kesadarandan pikiran masyarakat  bangsa akhir-akhir ini dihantui bayang–bayang kehancuran dan kebangkrutan. Wajah paranoia  ini akibat iklim kehidupansosial politik yang kian mencemaskan; merebaknya korupsi di partaipolitik, suap-menyuap  di Dewan Perwakilan Rakyat, kecurangan dalamsistem pendidikan, kolusi aparat pemerintahan, serta penipuan dankejahatan  di masyarakat.
IklimKebebasan yang diperjuangkan melalui  demokratisasi nyatanya tak mampumembangun masyarakat politik yang sehat  karena landskap  demokrasi takditunjang  oleh pilar-pilar lainnya. -Kebebasan yang ditunjangkeujujuran, keadilan dan kepercayaan publik–menjadi bola panas, merusaktidak saja  konstruksi bangunan demokrasi, tetapi juga  fondasi etika masyarakat demokratis.  Dominasi hasrat politik (kekuasaan, materi, danpopularitas) telah membunuh nalar politik  (political reason).Arsitektur demokrasi yang kehilangan fondasi nalar dikendalikansepenuhnya oleh  kombinasi kebebasan dan hasrat yang bersifat merusak.Kombinasi hasrat materi dan kuasa mendorong setiap orangmeminggirkan kejujuran, trush, dan kebenaran. Yang tersisa adalah kabuthitam di aneka lembaga demokrasi, termasuk partai politik, dimanabatas-batas  antara penjahat dan pahlawan, pendosa dan orang suci, kiangelap gulita.
Hasrat Politik
Kiansuburnya korupsi, penyuapan, kecurangan, dan penyalahgunaan wewenangdalam aneka institusi sosial politik dalam sistem Negara demokratismenunjukkan kehidupan demokrasi belum di topang ”kultur demokrasi”.Demokratisasi belum menghasilkan  homo politicon intelek, jujurvisioner, dan memiliki keutamaan moral.
DavidP Lavine didalam Politics Without Reason (2008) menjelaskan bahwa padatataran kesadaran dan ketaksadaran, politik dibangun oleh dua kekuatanpenentu, yaitu nalar dan hasrat, yang mencetak subyektivitas duaidentitas masyarakat politik. Dua kekuatan itu bekerja pada layaknyapendulum, yang berayun dinamis  membangun (atau menghancurkan)nilai-nilai moral politik.
Ayunanekstrim pendulum kearah kekuatan hasrat cenderung membawa kekacauan dankonflik politik. ”Perang semua melawan semua”, seperti di lukiskanHobes, adalah ketika hasrat menguasai absolute politik dengan mematikannalar. Inilah lukisan hasrat yang  ingin mencapai kepuasan  dankepemiikan ekskluisf (materi, kuasa, dan popularitas) melalui ketamakandan menghancurkan siapapun.
Korupsi,Nepotisme, dan penyalahgunaan jabatan adalah produk ekskllusif hasratdalam kematian nalar. Hasrat-sebagai emosi dan dorongan dalamdiri-menggarakan individu atau kelompok untuk bertindak. Bisa atasdasar amarah dan paranoia maupun kepuasan ekskllusif diri (selfish gratification). Hasrat korupsi (politik) dan mencontek (penididikan)melukiskan bercampurnya aroma amarah, paranoia, dan kepuasan diridalam  sosial politik kita.
Nalar,sebaiknya, dibangun oleh pikiran sehat. Uang menafikan orang untukmempertanyakan, memperhitungkan, berdebat, menawarkan alternativesolusi, dan mencari ide-ide kreatif untuk menemukan kebenaran ataumemecahkan masalah  bangsa. Nalar politik (baca:strategi politik) macamini yang mendorong Mahatma Gandhi mogok makan, bukan hasrat kebanggaandiri. Ruang politik yang kehilangan nalar dihuni oleh para petualang politik. Mereka mangabaikan tugas membangun masyarakat politik yangcerdas, menyalurkan aspirasi rakyat, memberdayakan masyarakat, danmembela kedaulatan bangsa.
Ironisnya,dalam kabut hitam sosial-politik, Negara nampaknya  tak mampu menjadicahaya terang. Terancamnya nyawa tenaga kerja Indonesia di luar negeri,kian menggilanya korupsi, maupun kian mengganasnya aneka jeniskejahatan menunjukkan bahwa Negara tenggelam dalam lorong kabut hitampolitik dan tak ada ketika diperlukan.
Politik Hampa
Meskipunproses demokratisasi telah berlangsung lebih dari setu dekade, banyakpihak yang tidak menyadari bahkan tak mengerti tujuan akhirdemokrasi-democratics telos. Proses demokratisasi cenderung bersifatProsedural, formal dan mekanikal, tanpa pemahaman dan penghayatannilai-nilai dasar komprehensif: kebebasan, kejujuran, keadilan dankebenaran.
Sepertidi katakan Giorgio Agamben dalam Homo sacer: Sovereign Power and  BareLife (1995), tujuan politik adalah  mencapai “hidup baik” atau “hidupberkualitas” (good life), dengan menolak dan menghindari “Hidup hampa”(bare life).
Merumuskanapa itu hidup baik dan hidup hampa adalah tugas utama politik melaluikapasitas diferensiasi nilai kemanusiaan yang dipertaruhkan  yaitukemampuan membedakan hampa dan berisi.
Diferensiasipolitik tak hanya dibangun melalui perbedaan antara kawan atau musuhtetapi juga antara politik hampa dan politik berkualitas diikuti prosespenyertaan (inclusion), peminggiran (exclusion). Kegagalan membuatperbedaan, dan kategori macam ini menggiring ke fenomena skizoveniapada taaran kognitif politik yaitu kegalauan katagoris dan kontradiksidi akhir hampa berkualitas (good life) dengan menolak dan menghindarihidup hampa (bare life).
Penulis Adalah : Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII)

Pengurus Fitua Institute

About Dzul Amirulhaq

Ketua PC GP Ansor Kota Bima

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: